Denpasar (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho mengharapkan kementerian maupun perusahaan-perusahaan besar di Tanah Air dapat memperbanyak agenda pertemuan atau rapat di Pulau Dewata, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi setempat.

"Pariwisata Bali pada 2023 diproyeksikan terus meningkat. Namun, masih terdapat risiko dampak resesi global yang berpotensi menahan tingkat kunjungan wisman ke Bali," kata Trisno Nugroho saat menerima kunjungan anggota DPD Made Mangku Pastika, di Denpasar, Selasa.

Sebelumnya, ujar Trisno, pada 2022 perbaikan kinerja pariwisata Bali didorong dampak penyelenggaraan puncak Presidensi G20 Indonesia serta penambahan kembali maskapai internasional dengan penerbangan langsung ke Bali.

Selain itu, juga didukung pelaksanaan berbagai kegiatan strategis di Provinsi Bali dan diberlakukan kebijakan kapasitas penuh untuk angkutan udara. "Pada tahun ini jumlah wisman yang datang ke Bali berpotensi tembus 4,1 juta jiwa atau jumlahnya meningkat dibandingkan pada 2022 sebanyak 2,33 juta jiwa. Kami harapkan bisa tembus sesuai target pemerintah sebanyak 4,5 juta jiwa," ujarnya pula.

Hingga 26 Februari 2023, tercatat kedatangan penumpang internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai sudah sebanyak 716 ribu orang dan kedatangan penumpang domestik sebanyak 652 ribu orang. Menurut Trisno, kunjungan wisatawan pada 2022 bisa melonjak signifikan dan pada 2023 diprakirakan terus meningkat terutama didorong oleh penyelenggaraan MICE dan sejumlah agenda strategis.

Oleh karena itu, kata Trisno, berbagai ajang pertemuan atau wisata konvensi (MICE) untuk tahun ini harus tetap didorong untuk mendukung pemulihan ekonomi Bali yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata.

"Walaupun pertumbuhan ekonomi Bali sudah positif yakni 4,84 persen pada 2022. Namun, belum sepenuhnya pulih dibandingkan sebelum COVID-19 karena inflasi Bali masih tinggi," katanya lagi. Pada Januari 2023, inflasi Bali tercatat masih tinggi yakni sebesar 0,66 persen (mtm), 0,66 persen (ytd) dan 5,81 persen (yoy). Tekanan inflasi di Bali sejauh ini terutama masih bersumber dari kelompok volatile food khususnya komoditas beras, cabai rawit, dan cabai merah.

Baca juga: Gubernur BI yakin nilai tukar rupiah menguat
Baca juga: BNI dukung Raisa Live in Concert mendorong industri kreatif Tanah Air

"Pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2023 diproyeksikan mengalami perlambatan seiring dengan tertahannya tendensi perputaran ekonomi global akibat risiko resesi global dan konflik geopolitik yang berpotensi menahan tingkat kunjungan wisman," kata Trisno.

Pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2023 berada di kisaran 4,20-5,00 persen. Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Made Mangku Pastika mengapresiasi perhatian KPw BI Provinsi Bali dalam memajukan UMKM dan mendorong perekonomian daerah setempat."BI perhatiannya luar biasa pada perkembangan ekonomi Bali dan khususnya lagi pada pertanian," kata Gubernur Bali periode 2008-2018 itu.

Menurut dia, Bali harus berkembang terus dan tumbuh menghadapi situasi apa pun. Dengan data-data yang telah disampaikan BI ini, akan sangat berguna untuk menentukan arah pembangunan ke depan. Terlebih, kata Pastika, Bali dari sisi potensi maupun kelemahannya juga telah digambarkan secara jelas melalui data-data yang disajikan dan berbagai upaya konkret telah dilakukan BI untuk terus mendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali.


 

 

Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024