Bali (ANTARA) - Kegiatan implementasi Program Organisasi Penggerak (POP) yang dijalankan secara mandiri oleh Putera Sampoerna Foundation (PSF) di bawah inisiatif School Development Outreach telah mencapai puncak program dengan penyelenggaraan “Pesta Pelajar Program Organisasi Penggerak” di Gedung Kesenian Gde Manik, Buleleng-Bali.

Head of Program & Development Putera Sampoerna Foundation-School Development Outreach, Juliana melalui keterangan tertulis di terima, Kamis (5/9) mengatakan “Pesta Pelajar Program Organisasi Penggerak” diadakan sebagai salah satu bentuk laporan pertanggungjawaban pencapaian PSF selama menjalankan POP, sekaligus sebagai apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat.

Ia mengatakan pada acara tersebut, para siswa dan guru dari lima sekolah di Provinsi Bali dan Provinsi Sulawesi Selatan, serta pemangku kepentingan, berbagi mengenai proses dan dampak yang dirasakan selama pelaksanaan program melalui pameran karya, portofolio, pertunjukan kesenian, testimoni video, serta talkshow. Selanjutnya serah terima program dari PSF kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng agar keberlangsungan program dapat terus terlaksana dan berimbas kepada sekolah-sekolah lainnya yang berada di Kabupaten Buleleng.

Program Organisasi Penggerak merupakan sebuah inisiatif dari Kemendikbud Ristek di bawah Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan untuk mengakselerasi perubahan dan peningkatan kualitas manajerial sekolah dan guru melalui semangat gotong royong dengan model pembelajaran adaptif yang kontekstual. Kemendikbud Ristek mendorong berbagai pihak untuk dapat mendukung berjalannya POP di berbagai wilayah di Indonesia dan PSF berkesempatan untuk melaksanakannya secara mandiri selama Oktober 2021 hingga Agustus 2023 di SMPN 1 Payangan, Gianyar-Bali, SMPN 8 Singaraja, Buleleng Bali, SMPN 1 Kintamani, Bangli-Bali, SMPN 4 Sungguminasa, Gowa-Sulawesi Selatan, dan SMPN 1 Tompobulu, Bantaeng-Sulawesi Selatan.

Pelaksanaan POP secara mandiri merupakan komitmen PSF untuk mendukung akselerasi pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. Selama hampir dua tahun, penerapan POP secara mandiri oleh PSF telah diimplementasikan kepada para murid melalui pembelajaran literasi dan numerasi berbasis proyek dan pelatihan pengajaran bagi manajerial sekolah. Kami berharap program ini bisa menelurkan generasi muda yang cakap akan literasi, numerasi, serta berkarakter melalui proses pembelajaran yang menyenangkan.

"Proses dan pengalaman selama pelaksanaan POP inilah yang ingin kami bagi pada kesempatan Pesta Pelajar Program Organisasi Penggerak, sekaligus sebagai momentum untuk mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat,” kata Juliana.

Ia mengatakan dengan melaksanakan POP secara mandiri, artinya PSF juga melakukan pengembangan materi agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontekstual dan mudah dipahami. Oleh karena itu PSF merancang program dengan judul Peningkatan Literasi Numerasi Berbasis Proyek Tingkat SMP (Lintas) yang diintegrasikan dengan mata pelajaran dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Pada prosesnya, para guru diarahkan untuk memberikan pemantik yang dapat memancing daya berpikir kritis para murid, sehingga bisa mendapatkan solusi dari masalah sesuai yang ditemukan di sekitar mereka.

Bagi PSF, sangat penting untuk memastikan bahwa setiap program yang diimplementasikan dapat menjadi sesuatu yang berlanjut dan berimbas kepada lebih banyak pihak. Seperti pada POP ini, keberlanjutan materi dan program didorong melalui para guru dan sekolah yang terlibat, serta dinas pendidikan pada wilayah lokasi sekolah penggerak.

Dari sisi materi, rancangan pembelajaran terkait literasi, numerasi, dan penguatan karakter yang diintegrasikan dengan mata pelajaran dan P5, bertujuan agar sekolah mudah untuk mengadaptasi dan menjadikannya bagian dari program sekolah. Dari sisi guru agar ilmu dan pemahaman secara merata didapatkan oleh semua guru pada satu sekolah, maka dibentuklah wadah untuk berbagi dan diskusi. Dari sisi sekolah, para sekolah penggerak juga melakukan pengimbasan kepada sekolah lainnya secara mandiri, agar manfaat positif POP yang sudah mereka alami dapat dirasakan oleh sekolah-sekolah di sekitar mereka. Lebih jauh lagi, agar keberlanjutan program berjalan dengan dukungan pemangku kepentingan, maka PSF juga melakukan serah terima program kepada pemerintah kota tiap-tiap sekolah penggerak. Keseluruhan proses ini secara nyata memperlihatkan semangat kolaboratif PSF kepada semua pihak yang memiliki komitmen yang sama untuk mengakselerasi pemerataan pendidikan di Indonesia.

Serangkaian acara “Pesta Pelajar Program Organisasi Penggerak” sebagai kulminasi POP memperlihatkan proses pelaksanaan POP. Terdapat pameran hasil karya proses pembelajaran dari para murid di sekolahnya masing-masing berupa karya kerja kelompok, penjelasan proyek, serta video dan foto dokumentasi. Pada bagian kedua, terdapat pementasan hasil karya bertema kearifan lokal yang menampilkan lagu dan tarian khas daerah.

Pada kesempatan ini, ditampilkan juga sebuah talkshow bertajuk “Peran Sekolah sebagai Komunitas Belajar dalam P5”. Talkshow ini membahas peran yang dilakukan oleh tim manajemen sekolah dan guru untuk memaksimalkan sumber daya dalam implementasi P5.

Sebagai pembicara pada acara ini adalah Dirjen GTK Kemendikbud Ristek RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, MPd, Kadisdikpora Kabupaten Buleleng, Made Astika, S. Pd, MM, Head of Program and Development Putera Sampoerna Foundation - School Development Outreach Juliana, serta Kepala Sekolah SMPN 8 Singaraja, Ketut Arya, S.Pd, MPd.

Program Organisasi Penggerak merupakan program prioritas yang membutuhkan kolaborasi dan gotong royong yang erat bersama organisasi atau pihak lain yang memiliki kepedulian yang sama. Putera Sampoerna Foundation merupakan salah satu institusi yang memiliki dedikasi dan komitmen yang tinggi, dan menjalankan POP dengan biaya mandiri.

"Atas nama GTK Kemendikbud Ristek, saya berterima kasih pelaksanaan POP oleh PSF telah menyentuh daerah yang belum kami sentuh. Kerjasama yang baik dijalankan oleh PSF saya apresiasi karena selain merupakan wujud nyata kolaborasi, pendampingan yang dilakukan tidak hanya ditujukan kepada para guru, tapi juga manajemen sekolah secara daring dan luring. Saya harap serah terima praktik baik PSF dilanjutkan dan disebarluaskan karena prinsipnya Merdeka Belajar adalah pergerakan. Tugas kepala daerah adalah melanjutkan dan diseminasikan secara gotong royong. Ada bibit baik pada siswa-siswi yang berada di sini, jadi mari lanjutkan secara mandiri," ujar Prof Nunuk Suryani.

Baca juga: Sampoerna persembahkan "rumah pintar" bagi anak NTB
Baca juga: Sampoerna-BEDO perkuat kapasitas UMKM Lombok Tengah

Rampungnya POP ini merupakan salah satu bukti kredibilitas kinerja PSF sebagai sebuah institusi bisnis sosial yang berfokus pada pendidikan. Dengan semangat kolaboratif, PSF akan terus mengajak semua pihak untuk bergerak bersama memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mendukung pemerataan pendidikan di Indonesia.


 

Pewarta : ANTARA
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2024