Lombok Tengah (ANTARA) - Pengajuan izin operasi penerbangan pesawat air di area Bendungan Batujai, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI telah rampung diproses.

"Semua syarat perizinan dari Kementerian Perhubungan untuk pengoperasian pesawat air di Bendung Batujai itu telah rampung," kata Kepala Baperida Lombok Tengah Lalu Wiranata di Lombok Tengah, Senin.

Ia mengatakan dengan rampungnya proses pengajuan perizinan pesawat air dari Kementerian Perhubungan tersebut, pembangunan proyek pembangunan hub pesawat air dipastikan bisa dilaksanakan pada tahun 2026 ini.

"Ada 14 jenis izin yang telah dipenuhi dalam pembangunan hub pesawat air tersebut," katanya.

Baca juga: Bendungan di Lombok Tengah jadi percobaan hub pesawat air

Ia mengatakan pemerintah daerah telah melakukan pertemuan dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB selaku pengelola bendungan bersama investor, untuk mendapatkan kepastian izin pemanfaatan bendungan.

"Tinggal menunggu izin pemanfaatan lahan dari BWS," katanya.

Ia mengatakan pembangunan hub pesawat air ini direncanakan dilaksanakan di tahun ini dan ditargetkan berfungsi atau beroperasi sebelum ajang MotoGP Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika pada Oktober.

Sementara itu, pihak investor telah menyiapkan dua pesawat yang akan difungsikan di Bendungan Batujai tersebut.

"Lokasi hub pesawat Air ini di Kecamatan Praya atau dekat Taman Tonjeng Beru Bendung Batujai," katanya.

Baca juga: Indonesia segera bangun enam pusat perawatan pesawat

Sementara itu, Investor pengembangan pesawat air Maechal mengatakan pertumbuhan ekonomi di Nusa Tenggara Barat saat ini sangat baik dan destinasi wisata di Lombok maupun Sumbawa sangat indah dan menarik dikunjungi oleh wisatawan.

"Hal baru ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dan peningkatan kunjungan wisatawan di NTB," katanya.

Ia mengatakan pesawat air ini untuk mendukung konektivitas yang dibutuhkan wisatawan yang cepat dan nyaman.

"Penerbangan pesawat air ini untuk mempercepat akses menuju destinasi wisata yang ada di NTB maupun Bali," katanya.

Baca juga: Pesawat Wings Air tujuan Bima gagal landing

Vice President Director Amanair Daniel Dwi Ananta mengatakan untuk tahap pertama pembangunan yang adalah hanggar atau tempat penyimpanan pesawat dengan luas lahan yang dibutuhkan sekitar 50 are.

"Kami akan membangun tempat penyimpanan pesawat dulu," katanya.

Namun, untuk saat ini pihaknya sedang melakukan komunikasi dengan pemerintah dan pihak terkait untuk proses izin investasi pengembangan pesawat air tersebut.

"Ada dua pesawat dulu yang akan dioperasikan," katanya.