Mataram (ANTARA) - Dari Stabilitas Harga, Penanganan Stunting, Pendidikan, Penguatan Koperasi, hingga Orkestrasi Desa Berdaya yang Berujung dalam Sujud
Ramadhan selalu menghadirkan ruang perjumpaan antara nilai dan kenyataan, antara do'a yang terangkat ke langit dan realitas kehidupan yang berpijak di bumi. Ia bukan sekedar bulan ibadah personal, tetapi madrasah sosial yang melatih kepekaan nurani. Lapar mengajarkan empati. Haus menumbuhkan kesadaran bahwa di balik angka-angka statistik pembangunan, ada wajah-wajah rakyat yang berjuang setiap hari.
Dalam kerangka itulah Safari Ramadhan Pemerintah Provinsi NTB pada hari kedua menemukan maknanya. Ia bukan agenda seremonial yang sekedar berpindah tempat, melainkan perjalanan dialogis menjadi ruang mendengar, memahami, sekaligus merumuskan kebijakan dari dekat. Bersama Ketua TP PKK Provinsi NTB Sinta Agathia dan jajaran perangkat daerah, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyusuri pasar, puskesmas, sekolah, desa, hingga masjid. Rangkaian perjalanan itu membentuk satu kesatuan pesan: kebijakan yang baik lahir dari perjumpaan yang jujur dengan realitas.
Membaca Pasar: Stabilitas Harga sebagai Wujud Kehadiran Negara
Perjalanan dimulai dari Pasar Gerung, ruang paling nyata tempat denyut ekonomi rakyat terasa. Setiap kali Ramadhan, harga kebutuhan pokok selalu menjadi perhatian, sebab fluktuasi kecil pun dapat berdampak besar bagi keluarga kecil.
Dialog dengan pedagang dan pembeli memperlihatkan bahwa harga memang bervariasi antar lapak. Variasi tersebut tidak serta-merta menunjukkan gejolak, melainkan juga memberi pilihan bagi konsumen. Enumerator diarahkan mencatat harga terendah sebagai acuan, agar kebijakan bertumpu pada data faktual, bukan asumsi.
Daging sapi masih dalam batas harga acuan. Daging ayam mengalami kenaikan ringan akibat naiknya harga ayam hidup di tingkat pemasok. Sementara itu, cabai menjadi komoditas paling sensitif karena dipengaruhi faktor cuaca dan lonjakan permintaan. Pemerintah merespons dengan memperkuat distribusi antarwilayah serta memfasilitasi transportasi dari daerah surplus ke daerah defisit.
Pesan yang menguat dari kunjungan ini jelas: negara hadir untuk menjaga stabilitas dan keterjangkauan, bukan untuk meniadakan mekanisme pasar. Kebijakan harus lahir dari dialog dan pembacaan yang utuh terhadap dinamika lapangan.
Lebih dari itu, kehadiran langsung di tengah pasar membangun kepercayaan. Kepemimpinan yang mendengar akan melahirkan kebijakan yang lebih bijak.
Dari Pasar ke Puskesmas: Stunting sebagai Cermin Masa Depan
Jika di pasar yang dibahas adalah harga hari ini, di Puskesmas Gerung yang dipikirkan adalah masa depan generasi.
Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Ahda memaparkan penanganan stunting berbasis desa dengan dukungan tenaga medis dan kerja sama organisasi profesi. Intervensi gizi, pemantauan kesehatan, dan pendampingan menunjukkan hasil yang menggembirakan: sebagian besar anak mengalami kenaikan berat dan tinggi badan.
Namun stunting bukan persoalan tunggal. Ia berkaitan dengan sanitasi, pola asuh, pendidikan ibu, hingga praktik sosial seperti pernikahan usia anak. Karena itu, pendekatannya pun harus multidimensionalyang melibatkan aspek kesehatan, sosial, budaya, dan keagamaan.
Di hadapan tenaga kesehatan dan para ibu, Gubernur Iqbal menegaskan pentingnya validasi data. Tanpa data yang akurat, kebijakan hanya akan menjadi spekulasi. Penanganan stunting harus presisi, memahami akar persoalan setiap keluarga.
Ramadhan memberi kedalaman makna pada pesan ini. Menjaga generasi adalah amanah. Pembangunan manusia tidak boleh ditunda, sebab di sanalah masa depan daerah ditentukan.
Sekolah sebagai Ruang Harapan: Pendidikan dan Integritas
Dari puskesmas, perjalanan berlanjut ke SMK Negeri 1 Gerung. Di halaman sekolah itu, masa depan NTB berdiri dalam wujud anak-anak yang sedang belajar dan bermimpi.
Dialog dengan siswa dan guru membahas pentingnya pendidikan yang inklusif, bermartabat, dan menghasilkan lulusan berkualitas. Pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Miq Iqbal juga menyampaikan permohonan ma'af atas keterlambatan pembayaran TPG dan THR guru. Penyesuaian anggaran melalui mekanisme pergeseran APBD harus dilakukan sesuai aturan hukum. Permohonan maaf itu disampaikan secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi.
Di ruang sekolah itu, kepemimpinan menunjukkan sisi integritas: keberanian menjelaskan keadaan dengan jujur dan kesediaan memikul tanggung jawab.
Menguatkan Fondasi Ekonomi: Koperasi sebagai Instrumen Kolektif
Perjalanan dilanjutkan ke Desa Jembatan Kembar, memberi semangat kepada KDKMP dalam menguatkan koperasi desa. Koperasi Merah Putih dipandang sebagai instrumen kolektif untuk memperkuat ekonomi rakyat.
Ekonomi desa tidak dapat bertumpu pada bantuan semata. Ia harus dibangun melalui usaha produktif yang terorganisasi dan saling menguatkan. Koperasi menjadi simpul distribusi, produksi, sekaligus ruang gotong royong ekonomi.
Penguatan koperasi sejalan dengan upaya membangun ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan.
Desa Berdaya: Orkestrasi dan Kolaborasi sebagai Jalan Keluar
Di Desa Taman Ayu, gagasan Desa Berdaya kembali ditegaskan. Gubernur Miq Iqbal menyampaikan bahwa kemiskinan telah lama diupayakan penyelesaiannya, namun sering kali masing-masing pihak berjalan sendiri. Orkestrasi menjadi kata kunci, dengan menyatukan provinsi, kabupaten/kota, NGO, dan masyarakat dalam satu arah gerak.
Data kemiskinan diverifikasi, potensi desa dipetakan, dan hambatan diidentifikasi. Ketahanan pangan, UMKM, dan pariwisata menjadi pilar penggerak. Program Makan Bergizi Gratis membuka peluang pasar yang dapat menyerap hasil produksi masyarakat.
Suara perempuan dan kelompok rentan juga didengar. Usulan tentang biogas, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan disabilitas menunjukkan bahwa solusi terbaik sering kali lahir dari masyarakat itu sendiri. Pemerintah bertugas memperkuat dan menghubungkan praktik baik tersebut dengan kebijakan yang lebih luas.
Mengeluarkan masyarakat dari kemiskinan ekstrem memerlukan kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk bekerja bersama.
Berakhir dalam Sujud: Hakikat Amanah Kepemimpinan
Di sela perjalanan, Gubernur menunaikan shalat Dzuhur dan beristirahat sejenak di bawah mimbar masjid. Momen sederhana itu mengingatkan bahwa pemimpin pun manusia pasti lelah, tetapi bersandar kepada Allah.
Rangkaian kegiatan hari itu ditutup dengan pelantikan Komisi Informasi Provinsi NTB, peninjauan UMKM, berbuka bersama masyarakat, dan shalat Trawih di Masjid Jami’ Baiturrahman Kediri.
Di sanalah seluruh perjalanan menemukan simpul maknanya. Dari pasar hingga desa, dari sekolah hingga koperasi, semuanya bermuara pada kesadaran bahwa kepemimpinan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Safari Ramadhan hari kedua bukan sekedar catatan agenda. Ia menjadi refleksi bahwa kebijakan, empati, pendidikan, ekonomi rakyat, dan nilai keagamaan tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung.
Karena pada akhirnya, membangun daerah bukan hanya tentang angka dan program, tetapi tentang menghadirkan hati dalam setiap keputusan. Dan dalam sujud yang panjang, seorang pemimpin diingatkan kembali bahwa seluruh ikhtiar hanyalah jalan pengabdian, yang kelak akan kembali kepada Allah semata.