Lombok Tengah (ANTARA) - Jamaah Muhammadiyah di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 hijriah di tiga lokasi, Jumat.
Lokasi pelaksanaan Shalat Idul Fitri tersebut. di halaman Kantor Muhammadiyah setempat, Masjid Darul Falah, dan Madjid Darusalam Kecamatan Kopang.
"Hari ini jamaah Muhammadiyah Lombok Tengah melaksanakan Shalat Idul Fitri di tiga titik, yakni di Praya, Kopang, dan Mantang," kata seorang pengurus Muhamadiyah Lombok Tengah selaku Khatib Shalat Idul Fitri Nasri Anggaran di Lombok Tengah, Jumat.
Ia mengatakan Idul Fitri ini bukan hanya milik jamaah Muhammadiyah, tetapi semua umat beragama Islam di dunia meskipun terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 hijriah.
Baca juga: Muhammadiyah NTB siapkan 33 titik Shalat Id
Pihaknya jauh hari telah melakukan sosialisasi tentang pelaksanaan Shalat Idul Fitri agar warga tidak terkejut ketika dilaksanakan Shalat Id.
"Pemerintah menetapkan 1 Syawal, 21 Maret 2026. Tetapi jauh hari kami telah melakukan sosialisasi, Shalat Idul Fitri digelar 20 Maret 2026," katanya.
Ia mengatakan Idul Fitri membuka kembali makna hakiki, yaitu kembali kepada fitrah atau suci, setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa pada Ramadhan.
Ia menekankan kepada para jamaah agar penguatan ketakwaan pasca-Ramadhan ditingkatkan, integrasi peran manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah, serta penerapan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
"Hati harus tetap bersih dan fokus utama menjaga konsistensi amal saleh, memperkokoh keadaban bangsa, peduli lingkungan dan mempererat silaturahmi," katanya.
Baca juga: Lebaran lebih cepat, sebagian warga Bima gelar Shalat Id
Ia mengajak jamaah untuk tetap istikamah dalam ibadah (shalat, tadarus, sedekah) dan perilaku baik meskipun Ramadhan telah usai, bukan sekadar ibadah musiman.
"Mari tetap konsisten dalam menebar kebaikan, saling maaf memaafkan atas kesalahan baik diri sendiri maupun orang lain dan bersihkan hati, jangan tanam kebencian," katanya.
Ia mengimbau jamaah tetap menjaga toleransi beragama, meskipun hari ini Lebaran telah dilaksanakan, karena masih ada warga sedang menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan pemerintah.
"Jangan makan dan minum secara vulgar atau berlebihan di tempat umum, supaya tidak mengganggu umat Islam yang sedang berpuasa pada hari terakhir ini," katanya.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu (21/3).
"Berdasarkan hisab dan tidak adanya hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026," kata Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Konferensi Pers Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah di Jakarta, Kamis (19/3).
Baca juga: Iqbal ajak warga Shalat Id bersama di Kantor Gubernur NTB
Ia menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah hasil rukyatulhilal dilakukan Tim Hisab Rukyat Kemenag yang menyebutkan tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Secara hisab, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk, dengan ketinggian antara 0 54' 27" (0,91) hingga 3 07' 52" (3,13) dan sudut elongasi berada pada 4 32' 40" (4,54) hingga 6 06' 11" (6,10).
Merujuk kriteria MABIMS, awal bulan hijriah ditetapkan jika hilal memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara dua benda langit mencapai 6,4 derajat.
"Dalam penentuan awal bulan kamariah, terutama dalam bulan yang ada ibadah umat Islam, dan menyangkut hajat hidup orang banyak, negara memfasilitasi dengan adanya Sidang Isbat ini sebagai bentuk kehadiran ulil amri atau pemerintah," ujar Menag Nasaruddin Umar.
Baca juga: Tempat gelar shalat Idul Fitri di Jakarta pada hari Jumat
Baca juga: Shalat Idul Fitri di Mataram dipusatkan di Epicentrum Mall