Jakarta (ANTARA) - Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar mengatakan wacana Kemendiktisaintek terkait penertiban dan penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan dunia industri mesti disikapi secara konstruktif, kritis, dan berimbang.

“Sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis keislaman, UIN Jakarta memiliki mandat strategis yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar kerja, tetapi juga pada pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, serta kontribusi terhadap pembangunan peradaban,” ujar Asep dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut Asep, relevansi suatu program studi tidak semata-mata diukur dari keterkaitannya dengan industri, tetapi juga dari perannya dalam menjawab kebutuhan sosial, kultural, dan keagamaan masyarakat.

Sejalan dengan semangat peningkatan kualitas, kata dia, UIN Jakarta berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh program studi melalui penguatan tracer study, pembaruan kurikulum berbasis kompetensi masa depan, serta peningkatan kolaborasi dengan berbagai sektor, termasuk industri, pemerintah, dan masyarakat sipil.

“Langkah ini diarahkan untuk memastikan bahwa lulusan UIN Jakarta memiliki daya saing tinggi, adaptif terhadap perubahan, serta tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” ujarnya.

Baca juga: 19 Mahasiswa prodi pariwisata Hamzanwadi Lombok Timur magang ke Jepang

Namun demikian, Asep berpandangan bahwa pendekatan penutupan program studi secara simplistik bukanlah solusi yang komprehensif. Transformasi, revitalisasi, dan inovasi akademik merupakan langkah yang lebih strategis dan berkelanjutan.

“Tugas pemerintah harus mendorong terbentuknya ekosistem perguruan tinggi dan dunia industri. Pemerintah dengan didampingi perguruan tinggi perlu merumuskan kebijakan yang mendorong industri untuk tidak hanya berorientasi pada produksi barang yang mudah dijual dalam jangka pendek,” katanya.

Kebijakan tersebut juga perlu terintegrasi dengan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga mampu mencetak sumber daya manusia unggul yang adaptif terhadap perkembangan global.

Baca juga: Sebanyak 156 prodi spesialis kedokteran dibuka tahun ini

Dengan demikian, kata dia, sinergi antara industri, inovasi, dan pendidikan dapat menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional.

“Dalam konteks ini, UIN Jakarta mendorong pengembangan model integrasi keilmuan yang menghubungkan ilmu-ilmu keislaman dengan sains, teknologi, dan kebutuhan industri masa depan, termasuk dalam bidang ekonomi syariah, industri halal, teknologi pendidikan, dan digitalisasi kajian Islam,” kata dia.

UIN Jakarta juga menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan disiplin ilmu yang memiliki kontribusi fundamental terhadap pembentukan etika, pemikiran kritis, dan kohesi sosial bangsa.

Keberadaan program studi di bidang keislaman dan humaniora merupakan fondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan program studi (prodi) di perguruan tinggi akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan relevansi, bukan ditutup.

Hal tersebut diungkapkannya dalam menjawab isu bahwa pemerintah akan menutup program studi yang tidak relevan, beberapa waktu lalu. Menteri Brian mencontohkan dalam bidang teknik elektro, yang saat ini industri memerlukan integrasi teknologi berbasis internet atau internet of things (IoT).