Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik, namun meminta agar kritik tidak mengaburkan berbagai capaian hasil lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
"Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tetapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai," kata Seskab Teddy dalam tayangan resmi Sekretariat Kabinet di Jakarta, Senin
Penegasan itu untuk menjawab sejumlah kritik oleh Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, terkait lawatan-lawatan Presiden Prabowo ke luar negeri dalam periode 1,5 tahun terakhir.
Tayangan berdurasi 6 menit lebih itu berisi setidaknya delapan poin jawaban dan klarifikasi atas kritik-kritik dan pernyataan yang disampaikan oleh Dinno Patti Djalal dalam media sosial pribadinya terhadap agenda lawatan luar negeri Presiden Prabowo.
Seskab Teddy, saat mengawali jawabannya, mengucapkan terima kasih atas masukan dan kritik yang disampaikan oleh Dino.
"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir Beliau (Dino Patti Djalal) adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," ujar Teddy.
Teddy kemudian menjawab kritik-kritik Dino secara runut, diawali dengan masalah biaya perjalanan lawatan luar negeri Presiden, yang dikritik Dino "sangat besar".
"Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.
Seskab Teddy lanjut menjawab kritik terkait jumlah rombongan kepresidenan yang dilibatkan dalam perjalanan luar negeri Presiden Prabowo.
Teddy menunjukkan jika dibandingkan dengan pendahulu-pendahulunya, Presiden Prabowo telah memangkas jumlah rombongan yang dilibatkan dalam setiap agenda luar negeri Kepala Negara.
Baca juga: Seskab Teddy memborong 35 sapi kurban dari peternak Boyolali
"Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi, kalau dulu, itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu, Nah, jaman Presiden Prabowo, jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," ujar Teddy.
Terkait jadwal lawatan luar negeri Presiden, Dino sebelumnya menyarankan lawatan luar negeri dipetakan setidaknya setahun sebelumnya.
Dino juga menyarankan agar Seskab Teddy dan Menteri Luar Negeri Sugiono untuk mengumumkan rencana lawatan luar negeri Presiden sebulan sebelum keberangkatan atau minimal seminggu sebelum keberangkatan.
Baca juga: Presiden dukung perundingan damai Kamboja-Thailand
Seskab Teddy kemudian menjawab jadwal lawatan luar negeri Presiden itu terbagi atas jadwal tahunan dan jadwal yang mendesak mengikuti perkembangan dunia global yang dinamis.
"Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Jadi, ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," kata Seskab Teddy.
Kedekatan personal
Teddy kemudian mencontohkan jadwal tahunan itu seperti agenda KTT ASEAN, KTT G20, KTT APEC, KTT BRICS, dan Sidang Majelis Umum PBB.
Sementara itu, jadwal mendesak itu berkaitan dengan dinamika global, di antaranya seperti konflik di beberapa negara, krisis di Timur Tengah dan perkembangan situasi di Palestina.
Jawaban berikutnya yang diberikan oleh Seskab Teddy terkait kritik Dino yang menyoroti frekuensi atau banyaknya jumlah lawatan luar negeri Presiden Prabowo serta hal-hal terkait protokoler.
"Presiden Prabowo adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis, sebelumnya ada konflik di Ukraina, Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat (Arab) Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya," katanya.
Jadi, lanjut dia, setiap pemimpin tentunya harus membangun hubungan dekat antarpemimpin dunia, dan tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru minta bantuan.
"Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," ujar Teddy. .
Teddy melanjutkan gaya diplomasi yang dijalankan oleh Presiden Prabowo ialah menggunakan "kedekatan personal".
"Perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi, salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi, kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy.