Menkes mengajak masyarakat tinggalkan rokok
Kamis, 11 Juli 2019 14:08 WIB
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (04/07/2019) usai memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-23. ANTARA/Susylo Asmalyah
Mataram (ANTARA) - Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengubah perilaku tidak sehat seperti merokok menjadi pola hidup yang sehat guna mengurangi angka prevalensi berbagai penyakit tidak menular yang terus meningkat.
Nila dalam sambutannya di puncak acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Kementerian Kesehatan Jakarta, Kamis, mengatakan rokok juga menjadi penyebab penyakit katastropik seperti penyakit jantung dan stroke yang membebani biaya BPJS Kesehatan.
Menkes mengemukakan penyakit katastropik membebani lebih dari 20 persen dan bahkan hampir 30 persen seluruh pembiayaan BPJS Kesehatan.
Pembiayaan BPJS Kesehatan untuk penyakit jantung tahun 2018 sebesar Rp10,5 triliun, diikuti penyakit kanker Rp3,4 triliun, dan penyakit stroke Rp2,5 triliun.
"Kita lihat defisit BPJS Kesehatan, karena tidak mungkin biarpun seluruh masyarakat membayar iuran kalau kita tidak mengubah perilaku akan tetap defisit," kata Nila.
Menkes juga menyebutkan permasalahan BPJS Kesehatan yang masih kurang dalam kolektibilitas iuran khususnya di sektor peserta mandiri.
Dia menyinggung bahwa sebagian masyarakat masih lebih memilih untuk mengeluarkan uang untuk membeli rokok ketimbang membayar iuran BPJS Kesehatan yang paling sedikit sebesar Rp25 ribu per bulan untuk satu orang.
Menteri Kesehatan mengemukakan usia harapan hidup orang Indonesia dari indeks pembangunan manusia saat ini 71,4 tahun. Namun usia sehat hidup orang Indonesia rata-rata 62 tahun.
Dia sangat menyayangkan apabila ada delapan hingga sembilan tahun sebagai masa di mana orang mengalami sakit.
"Mari ubah perilaku kita, mari kita sadar bahwa kesehatan itu mahalnya luar biasa," kata Menkes Nila.
Nila dalam sambutannya di puncak acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Kementerian Kesehatan Jakarta, Kamis, mengatakan rokok juga menjadi penyebab penyakit katastropik seperti penyakit jantung dan stroke yang membebani biaya BPJS Kesehatan.
Menkes mengemukakan penyakit katastropik membebani lebih dari 20 persen dan bahkan hampir 30 persen seluruh pembiayaan BPJS Kesehatan.
Pembiayaan BPJS Kesehatan untuk penyakit jantung tahun 2018 sebesar Rp10,5 triliun, diikuti penyakit kanker Rp3,4 triliun, dan penyakit stroke Rp2,5 triliun.
"Kita lihat defisit BPJS Kesehatan, karena tidak mungkin biarpun seluruh masyarakat membayar iuran kalau kita tidak mengubah perilaku akan tetap defisit," kata Nila.
Menkes juga menyebutkan permasalahan BPJS Kesehatan yang masih kurang dalam kolektibilitas iuran khususnya di sektor peserta mandiri.
Dia menyinggung bahwa sebagian masyarakat masih lebih memilih untuk mengeluarkan uang untuk membeli rokok ketimbang membayar iuran BPJS Kesehatan yang paling sedikit sebesar Rp25 ribu per bulan untuk satu orang.
Menteri Kesehatan mengemukakan usia harapan hidup orang Indonesia dari indeks pembangunan manusia saat ini 71,4 tahun. Namun usia sehat hidup orang Indonesia rata-rata 62 tahun.
Dia sangat menyayangkan apabila ada delapan hingga sembilan tahun sebagai masa di mana orang mengalami sakit.
"Mari ubah perilaku kita, mari kita sadar bahwa kesehatan itu mahalnya luar biasa," kata Menkes Nila.
Pewarta : Antara
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Dompu gandeng RSUP NTB tingkatkan akses layanan kesehatan warga miskin
11 February 2026 19:26 WIB
BPJS Kesehatan-MUI kolaborasi menjadikan khutbah media sosialisasikan JKN
09 February 2026 17:56 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Pengelolaan sampah Nasional naik ke 24,95 persen, Target 100 persen masih jauh
11 February 2026 17:18 WIB
Sebanyak 1,67 juta orang diprediksi padati Ketapang--Gilimanuk pada Lebaran
11 February 2026 6:40 WIB