Mataram (ANTARA) - Badan Ketahan Pangan (BKP) Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai tiga desa berhasil mengelola dana bantuan desa mandiri pangan karena masyarakatnya mampu meningkatkan pendapatannya melalui pembentukan usaha ekonomi produktif.

  "Tiga dari empat desa yang memperoleh bantuan desa mandiri pangan pada 2006 dinilai telah berhasil mengelola uang yang kita berikan dengan cara membentuk usaha-usaha mikro yang produktif," kata Kepala BKP NTB, Hj. Husnanidiaty Nurdin, di Mataram, Minggu.

  Ia menyebutkan empat desa yang memperoleh bantuan desa mandiri pangan tersebut, yakni Desa Montong Tangi, Desa Gereneng, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Desa Beru, Kecamatan Jereweh, dan Desa Tatar, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat.

  Masing-masing desa memperoleh dana bantuan desa mandiri pangan sebesar Rp80 juta yang diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama diberikan sebesar Rp60 juta, kemudian tahap kedua sebesar Rp20 juta.

  "Dari empat desa penerima bantuan itu, tiga desa yang bagus perkembangannya, sedangkan satu desa, yakni Desa Tatar, masih perlu mendapatkan pembinaan agar benar-benar bisa menjadi desa mandiri pangan," katanya.

  Husnanidiaty lantas menyebutkan salah satu dari desa yang dinilai berhasil mengelola dana bantuan pemerintah khusus untuk ketahanan pangan, yakni Desa Montong Tangi, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, mengelola dana bantuan dengan membentuk beberapa usaha ekonomi produktif.

  Usaha ekonomi produktif yang paling menonjol saat ini, yakni usaha peternakan ayam arab dengan omzet per hari mencapai Rp900 ribu atau sekitar Rp27 juta per bulan. Usaha ini dikelola oleh beberapa kelompok yang ada di Desa Montong Tangi.

  "Selain dari usaha peternakan ayam arab, ada juga usaha ekonomi produktif lainnya, yakni pedagang bakulan dan kerajinan seperti gerabah. Setiap anggota memperoleh modal pinjaman dari dana bantuan desa mandiri pangan yang dikelola secara berkelompok," ujarnya.

  Pembina kelompok penerima bantuan desa Mandiri Pangan di Desa Montong Tangi, Abdurrahman, mengatakan usaha peternakan ayam arab yang digeluti oleh Kelompok Pade Angen, berawal dari program bantuan ibumil (ibu hamil) dari BKP NTB.

  Para ibu hamil yang ada di Desa Montong Tangi diberikan dua ekor ayam arab dan dua ekor ayam kampung. Setelah dipelihara beberapa lama, empat ekor ayam tersebut berkembang.

  "Akhirnya, warga di sini yang selalu mengalami kerugian akibat hasil pertanian yang kurang bagus, berinisiatif memelihara ayam arab. Awalnya hanya 60 ekor, sekarang sudah berkembang menjadi 2.000 ekor," katanya.

  Menurut dia, dari 2.000 ekor ayam yang sudah dipelihara oleh beberapa kelompok menghasilkan sebanyak 900 butir telur ayam arab per hari dengan nilai jual sebesar Rp1.000,00 per butir.

  Sebagian besar telur yang diproduksi dipasarkan di Kota Mataram. Penjualan telur dilakukan oleh tenaga pemasaran yang sudah dibentuk dengan sistem bagi hasil yang sudah disepakati.

  "Harga yang kami berikan kepada tenaga pemasaran, yakni Rp25 ribu per 30 butir. Nanti mereka menjualnya dengan harga Rp30 ribu atau bahkan bisa lebih tinggi, tergantung bagaimana mereka menjualnya di pasar," katanya.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026