Mataram, (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengupayakan margin keuntungan petani terus bertambah agar program agribisnis jagung dapat mencapai hasil yang diharapkan.
"Berbagai upaya nyata ditempuh untuk menambah margin keuntungan petani antara lain melalui pelibatan PT iPasar selaku perusahaan swasta nasional yang menyelenggarakan pasar lelang fisik komoditi berbasis internet, dan kegiatan pasar lelang 'forward' komoditi agro," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Pending Dadih Permana, pada rapat koordinasi di Mataram (2/11).
Rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Gubernur NTB H. Badrul Munir itu, lebih fokus pada upaya pengentasan kemiskinan melalui Klaster III bidang pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) berbasis unit usaha.
Sehari sebelumnya Badrul memimpin rapat koordinasi yang melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang dikelompokkan dalam empat klaster penanggulangan kemiskinan.
Keempat klaster itu yakni Klaster I yang mencakup kelompok Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bidang perlindungan dan bantuan sosial berbasis rumah tangga, Klaster II SKDP bidang pemberdayaan masyarakat berbasis kelompok masyarakat, Klaster III SKPD bidang pengembangan UKM berbasis unit usaha dan Klaster IV mencakup SKPD pendukung berbasis wilayah.
Pada rapat koordinasi itu, Pending mengemukakan program pengentasan kemiskinan yang antara lain melalui pengembangan agribisnis jagung yang bertujuan meningkatkan pendapatan petani hingga keluar dari garis kemiskinan.
Menurut dia, salah satu upaya nyata meningkatkan pendapatan petani yakni meningkatkan margin keuntungannya dalam usaha agribisnis jagung.
"Diupayakan jagung produksi petani NTB dijual dalam bentuk pipil kering kepada lembaga penyalur yang sesuai, sehingga menghasilkan harga yang memuaskan. Jangan biarkan petani menjual jagungnya dalam bentuk tongkol yang tentunya harganya relatif murah," ujarnya.
Untuk mewujudkan peningkatan margin keuntungan petani itu, kata Pending, perlu dibudayakan pola kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) karena keberadaan kedua lembaga petani itu ikut membantu memperlebar margin keuntungan petani.
Poktan dan gapoktan yang akan berurusan dengan lembaga penyalur komoditi agribisnis tersebut melalui jasa PT iPasar dan kegiatan pasar lelang "forward".
"Dana untuk mendukung pola itu sudah ada di Bank NTB, petani pun dapat memanfaatkan dana tersebut untuk membeli sarana produksi guna meningkatkan produktivitas usahanya," ujarnya.
Diakuinya, Pemerintah Provinsi NTB tengah berupaya memperluas akses perdagangan komoditi jagung di pasar nasional dan internasional, melalui jalinan kerja sama dengan perusahaan swasta nasional yang menyelenggerakan pasar lelang fisik komoditi yakni PT iPasar.
Pada 23 Desember 2009, Gubernur NTB KH. M. Zainul Majdi, meresmikan peluncuran iPasar dalam perdagangan komoditi unggulan NTB seperti jagung, sapi, mutiara dan rumput laut.
Penjualan komoditi unggulan melalui pasar elektronik (ipasar.co.id) itu, setidaknya dapat menekan biaya ongkos yang relatif mahal, karena melalui gambar di internet, petani sudah bisa menjual hasil produksinya.
PT iPasar kemudian menjalin kerja sama dengan PT GNE dan peneliti Unram hinggga dicapai kesepakatan untuk meningkatkan komitmen dan langkah kerja yang terpadu guna mendorong peningkatan produktivitas dan pemasaran komoditi unggulan.
Manajemen PT iPasar juga telah menandatangani Naskah Kerja Sama "Surveyor" komoditi jagung dengan perusahaan daerah PT Gerbang NTB Emas (GNE) dan peneliti Universitas Mataram (Unram) guna menyelenggerakan pasar lelang fisik komoditi berbasis internet.
Jalinan kerja sama untuk memperluas akses perdagangan komoditi jagung di pasar nasional dan internasional itu merupakan bagain dari upaya mendukung pencapaian satu juta ton jagung (prosatanjung) pada tahun 2011 yang dicanangkan pemerintah.
Optimalkan lahan
Pemerintah Provinsi NTB pun terus berupaya mengoptimalkan potensi lahan kering untuk produksi jagung.
Menurut Pending , potensi lahan kering di NTB mencapai 1,8 juta hektare dan cocok untuk pengembangan berbagai komoditi tanaman pangan dan hortikultura seperti jagung dan kedelai.
Dari potensi lahan kering seluas 38 ribu hektare itu baru 30 persen yang dimanfatkan untuk pengembangan tanaman pangan dan perkebunan, tetapi masih menggunakan teknologi sangat sederhana sehingga produktivitasnya rendah.
"Khusus komoditas jagung, potensi lahannya dapat mencapai 404.040 hektare namun sejauh ini baru 88.579 hektare yang dimanfaatkan sehingga produksinya baru 305.551 ton pipilan kering dengan tingkat produktivitas 36,52 kwintal per hektare," ujarnya.
Data versi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB, produksi jagung di tahun 2009 mengalami peningkatan cukup signifikan jika dibanding tahun sebelumnya.
Produksi jagung NTB di tahun 2006 sebanyak 103.963 ton pipilan kering, meningkat menjadi 120.612 ton pipilan kering di tahun 2007.
Produksi jagung NTB di tahun 2008 meningkat menjadi 196.263 ton pipilan kering dan tahun 2009 mencapai 305.551 ton pipilan kering, terkait peningkatan luas panen dan produktivitas jagung.
Pada tahun 2007 luas panen jagung mencapai 42.955 hektare atau mengalami kenaikan luas panen sebanyak 2.338 hektare (5,8 persen) jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sementara produktivitasnya mencapai 28,08 kwintal per hektare di tahun 2007 atau meningkat sebesar 9,7 persen dari 25,60 kwintal per hektare pada tahun 2006.
Produktivitas di tahun 2008 mencapai 33,22 kwintal per hektare dan terus meningkat hingga menjadi 36,52 kwintal per hektare di tahun 2009.
Kini, NTB sudah memproduksi 305.551 ton pipilan kering dengan luas panen 88.579 hektare dengan tingkat produktivitas 36,52 kwintal per hektare. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026