Mataram, 14/3 (ANTARA) - Pemanfaatan potensi rumput laut di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih belum maksimal, terbukti dari perairan pantai seluas 22.768 ha yang telah dimanfaatkan baru seluas 6.830 ha atau sekitar 30 persen dengan produksi 116.010,4 ton pada 2008.

   Gubernur NTB, HM Zainul Majdi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Drs H Abdul Malik di Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Sabtu, mengatakan, produksi rumput laut 2008 itu naik 60 persen dibandingkan 2007 sebanyak 72.500 ton.  
Ia mengatakan, peningkatan produksi ini merupakan capaian dari revitalisasi perikanan dan kelautan budi daya di daerah  ini khususnya komoditi rumput laut yang didukung kemitraan antara petani rumput laut dan pengusaha.

   "Rumput laut merupakan komoditi yang mudah dibudidayakan dengan teknologi budi daya  sederhana serta umur panen relatif singkat, sekitar 45 hari," katanya.

   Menurut dia, usaha budi daya ini memberikan manfaat cukup besar untuk masyarakat, karena selain memberikan nilai tambah bagi peningkatan ekonomi juga menyerap tenaga kerja cukup banyak, i samping merupakan komoditi ekspor yang penting meski dikirim melalui provinsi lain seperti Bali dan Jawa Timur.

   Industri pengolahan rumput laut tersebut sebagian besar masih berbentuk tepung "caraginan", jelly dan berbagai produk olahan yang berbahan baku baik dari industri pabrikan maupun rumah tangga.

   Ia mengatakan, berbagai produk olahan yang berbahan baku rumput laut tersebut kini menjadi ikon makanan khas NTB dan layak dijadikan oleh-oleh. Selain itu produk rumput laut juga bisa dijadikan bahan baku industri kosmetik, cat pesawat terbang, biofuel, pulp dan bahan makanan serta produk kesehatan lainnya.

   "Mengingat potensi budi daya rumput laut cukup besar di daerah ini, kita perlu tingkatkan terus mutu pengembangannya, sehingga menghasilan produk yang lebih berkualitas dan mampu bersaing di pasar," katanya.

   Menurut dia, perlu dikembangkan sistem kemitraan antara pelaku usaha mulai dari pembenihan, usaha budi daya, pengolahan hingga distribusi dan pemasaran," ujarnya.

   Ini penting karena kegiatan budi daya komoditi rumput laut, kerapu dan budi daya perikanan dan kelautan lainnya memliki prospek pasar yang cukup menjanjikan, baik di pasaran nasional maupun internasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

   Pemprov NTB mengharapkan pemerintah pusat terus memberikan dukungan baik dalan bentuk peningkatan anggaran pengembangan budi daya laut khususnya rumput laut maupun pembinaan, pelatihan, bantuan modal usaha dan bimbingan teknis.

   Komoditi lainnya yang diandalkan dan berpotensi besar untuk dikembangkan di NTB adalah ikan kerapu dengan potensi seluas 2.229 ha.  Produksi ikan kerapu di NTB pada 2008 tercatat 169,1 ton, naik 34,4 persen dibandingkan 2007 sebanyak 125,8 ton.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026