Mataram, (ANTARA) - Kementerian Kesehatan memilih Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sebagai lokasi sasaran program kampanye taburia karena adanya kasus gizi buruk di wilayah itu.
"Lombok Tengah tahun ini masuk dalam program kampanye taburia karena ada kasus gizi buruk yang dilaporkan. Kalau tidak ada laporan, kemungkinan tidak dipilih," kata konsultan program kampanye perubahan prilaku penggunaan taburia, di Nusa Tenggara Barat (NTB) M. N. Anwar, di Mataram (2/3).
Taburia adalah bubuk multivitamin dan multimineral untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral setiap anak balita. Taburia mengandung 12 macam vitamin dan empat macam mineral yang bermanfaat untuk menambah nafsu makan anak dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang meliputi otak, mata, tulang dan gigi.
Ia mengatakan, program taburia yang sudah berjalan di NTB, sejak 2008 sebelumnya hanya menyasar tiga kabupaten/kota, yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur.
Tiga kabupaten/kota tersebut dipilih menjadi sasaran program kampanye taburia karena merupakan wilayah yang memiliki balita terkena kasus gizi buruk.
Anwar mengatakan, kampanye taburia yang bertujuan untuk emperbaiki kondisi gizi balita di NTB, merupakan program Kementerian Kesehatan yang dijalankan bekerjasama dengan Bank Dunia.
Program kampanye taburia tersebut merupakan bagian dari program "Nutrition Improvement Through Community Empowerment" (NICE) atau program perbaikan gizi melalui pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi gizi kurang dan gizi buruk pada balita, ibu hamil dan juga menyusui, terutama pada keluarga miskin.
"Program NICE ini diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan dan dilaksanakan di 24 kabupaten/kota pada enam provinsi, meliputi Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, NTB, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan," katanya.
Untuk mendukung suskesnya kampanye taburia di NTB, kata dia, pihaknya akan melatih sebanyak 50 kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) di masing-masing kabupaten/kota yang dipilih menjadi lokasi kampanye taburia.
Melalui pelatihan tersebut diharapkan para kader Posyandu memahami manfaat taburia, sehingga mereka mampu menyampaikan informasi kepada masyarakat secara benar.
Selain pelatihan bagi kader Posyandu, tambah Anwar, pihaknya juga melatih para pihak yang terkait dengan perbaikan gizi anak pada seperti Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB, hubungan masyarakat (Humas) Pemerintah Provinsi NTB dan kabupaten/kota serta unsur media massa.
"Pelatihan bagi kader Posyandu sudah berjalan, sedangkan untuk instansi pemerintah dan unsur media massa sudah digelar pada 2010. Kami berharap dengan adanya kerja sama tersebut kampanye taburia untuk perbaikan gizi anak usia emas (20 bulan-4 tahun) di NTB, bisa berjalan efektif," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026