Hal itu disampaikan Wahyudi saat berkunjung di Bandara Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Sabtu.
Ia mengatakan, untuk peningkatan status kelas tiga menjadi kelas dua yang mesti dipenuhi adalah frekuensi penerbangan atau kapasitas maskapai, jumlah penumpang yang menggunakan jasa penerbangan setiap hari dan penambahan panjang landasan.
"Tahun ini, bandara masih melakukan kegiatan penambahan panjang landasan dari 1.700 meter menjadi 1.900 meter, untuk selanjutnya pada 2012 panjang landasan sudah bisa mencapai 2.200 meter," ungkapnya.
Ia menambahkan, sebanyak enam pesawat yang beroperasi di bandara Kabupaten Bima, dengan jenis Foker 100 dengan jumlah 100 sit, Foker 50 dengan jumlah 50 sit, MA 60 dengan kapasitas 60 sit, dan ATR 72 dengan muatan 72 sit.
Setiap hari, jumlah penumpang yang berangkat dari dan melalui bandara ini tidak kurang dari 500 hingga 600 orang yang didominasi wisatawan asing.
Jika terjadi peningkatan status maka jenis pesawat yang digunakan untuk pelayanan penerbangan dengan jenis seri boing 500 dengan kapasitas 120 sit, boing 400 dengan muatan 165 penumpang, dan boing 300 dengan kepasitas 145 sit.
Ia menerangkan, jumlah penerimaan negara bukan pajak yang bersumber dari bandara ini dari penarikan PJP2U dan PJP4U mencapai Rp72 juta hingga Rp80 juta per bulan atau sekitar Rp1 miliar lebih dalam satu tahun.
"Setelah status bandara ditingkatkan, kemungkinan jumlah penerimaan negara bukan pajak bisa mencapai dua kali lipat dari sekarang," ungkapnya.
Sementara itu, rute penerbangan dari dan melalui Bandara Sultan M Salahudin yakni Makasar - Bima, Mataram - Bima, Denpasar - Bima, dan Merango - Bima.
"Salah satu faktor tingginya mobilisasi penumpang di bandara di Kabupaten Bima, karena potensi objek wisata yang rutin di kunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri," urainya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026