Jakarta (ANTARA) - Tahukah Anda banyak tempat purbakala penting di dunia yang ternyata ditemukan menggunakan satelit yang diakses dengan alat-alat biasa seperti Google Earth atau Google Map?
Seperti dilaporkan Telegraph, terdapat 17 piramida, 1000 makam, dan 3000 pemukiman purba yang hilang di Mesir ditemukan menggunakan satelit berteknologi sinar infra merah pada Rabu (25/5).
Tetapi sebelum itu, pada Februari silam seorang arkeolog mengidentifikasi sekitar 2000 situs purbakala yang diduga sangat penting di Arab Saudi hanya dengan menggunakan Google Earth.
David Kennedy, profesor studi sejarah klasik dan kuno di University of Western Australia menggunakan Google Earth untuk menentukan 1977 situs purba, berupa kuburan batu.
Sementara pada September 2010, sebuah kawah yang curam ditemukan di tengah-tengah padang gurun Mesir. Kawah yang kemudian dinamai Kawah Kamil itu diduga tercipta akibat hantaman meteor.
Tidak hanya itu, pada Februari 2009 menggunakan Google Ocean sebuah pola jalanan ditemukan di dasar lautan Atlantik di dekat Afrika. Puing-puing berbentuk persegi panjang yang ukurannya setara dengan luas negara Wales itu diduga sebagai kota yang hilang Atlantis.
Kembali ke Agustus 2009 seorang petugas keamanan mengaku menemukan moster legendaris, Loch Ness ketika sedang mengutak-atik Google Earth. Mendapat laporan itu Google lantas berjanji akan meninjau lebih cermat hasil pencitraan itu.
Penemuan unik lain terjadi ketika seorang pengguna Google Maps secara tidak sengaja menemukan sebuah lambang yang mirip dengan lambang jagoan Batman (bat signal) di markas militer Amerika Serikat di Okinawa, Jepang.
Saking bagusnya gambar yang diberikan oleh Google memang kemudian menyebabkan departemen pertahanan AS melarang laman itu mengambil citra satelit dari fasilitas-fasilitas militer AS.
Pentagon mengatakan citra satelit Google bisa menjadi ancaman serius bagi militer AS. Sebelum itu Google memang sempat mengambil gambar dari sebuah markas militer di Texas. (*)
PEMKOT MATARAM MASIH MENGKAJI PENERAPAN PAJAK PKL
Mataram, 27/5 (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, masih melakukan kajian terhadap rencana penerapan pajak terhadap pedagang kaki lima agar kebijakan tersebut tidak disalahartikan.
"Rencana pemungutan pajak dari pedagang kaki lima (PKL) ibarat buah simalakama. Di satu sisi bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah, tetapi di sisi lain, PKL bisa menjadikan hal itu untuk mengklaim sebagai izin berusaha," kata Kepala Dinas Pendapatan Kota Mataram, H. Lalu Sofyan Arsyad, di Mataram, Jumat.
Ia mengatakan, pajak yang akan dipungut dari PKL masuk dalam jenis pajak restoran. PKL yang menjadi dikenakan wajib pajak adalah PKL yang memiliki omzet sebesar Rp300 ribu ke atas.
Saat ini, lanjutnya, pemungutan pajak baru diterapkan kepada para PKL yang berjualan di taman Udayana. Namun, hal itu dilakukan oleh Dinas Pertamanan Kota, sebagai lembaga yang mengelola taman tersebut.
Untuk PKL yang berjualan di sejumlah titik jalan raya yang ada di Kota Mataram, belum bisa dilakukan karena belum ada keputusan resmi dari Wali Kota Mataram.
"Kami tetap koordinasikan masalah ini dengan wali kota. Memang ini agak sulit diterapkan karena para PKL tidak memiliki izin usaha. Apalagi mereka berjualan di depan toko orang dan di sekitar perkantoran. Kalau kami memungut, nanti dianggap pemerintah memberikan izin berjualan," katanya.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026