Mataram, 9/12 (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dibangun di Pulau Sumbawa, segera dioperasikan namun terbatas pada pelayanan rawat jalan, karena belum rampung secara keseluruhan sehingga belum bisa melayani rawat inap.

  "Sambil jalan proses pembangunannya, pelayanan rawat jalan akan mulai dibuka pada 17 Desember mendatang," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Moch Ismail, di Mataram, Jumat.

  Pelayanan rawat jalan yang dimaksud, mencakup layanan poli umum, kebidanan dan kandungan, poli kesehatan anak, poli gigi, dan pelayanan penunjang medik lainnya seperti laboratorium, rontgen, dan fasilitas lainnya.

  Pelayanan kesehatan dimulai pada 17 Desember 2011, yang bertepatan dengan HUT ke-53 Pemerintah Provinsi NTB.

  Ismail mengatakan, rumah sakit rujukan milik Pemerintah Provinsi NTB di Pulau Sumbawa itu diberi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB di Sumbawa, yang sudah bisa dioperasikan meskipun pembangunannya masih terus berlanjut.

  RSUD NTB di Sumbawa itu berlokasi di Kilometer 5 jalan jurusan Sumbawa-Bima, yang dibangun pada lahan seluas 6,5 hektare. 

  "Fisiknya baru 45 persen, sehingga masih terus dibangun di 2012 hingga tahun berikutnya jika belum juga rampung. Tetapi, pelayanan rawat jalan sudah bisa karena beberapa bangunan telah rampung," ujarnya.

  Menurut Ismail, anggaran pembangunan RSUD NTB di Sumbawa itu dialokasikan secara bertahap sejak 2009, yang diawali dengan dukungan dana APBN 2009 dari pos anggaran Kementerian Kesehatan sebesar Rp45 miliar, dan APBD Provinsi NTB sebesar Rp2 miliar, serta APBD Kabupaten Sumbawa sebesar Rp5 miliar.

  Mulai 2010, pembangunan rumah sakit itu hanya didukung dana APBD Provinsi NTB yang dialokasikan sebesar Rp8 miliar, kemudian aloaksi APBD NTB 2011 sebesar Rp15 miliar, serta dukungan dana sebesar Rp5 miliar yang bersumber dari sebagian dana pemberdayaan masyarakat atau Corporate Social Responsibilty (CSR) PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).

  PT NNT berkomitmen memberi dana pemberdayaan masyarakat (CSR) senilai 38 juta dolar AS atau setara dengan Rp361 miliar kepada pemerintah daerah di NTB, setiap tahun anggaran.

  Program pemberdayaan itu mencakup bidang pendidikan dan kesehatan, pengembangan ekonomi pedesaan, pengembangan fasilitas strategis dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

  Dari total dana CSR sebesar 38 juta dolar AS di 2011 itu, masing-masing sebanyak 40 persen diantaranya dijatahkan untuk Pemprov NTB (sekitar Rp144 miliar) dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan sisanya 20 persen untuk Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

  Dari total dana sebesar Rp144 miliar yang menjadi jatah Pemprov NTB itu, dialokasikan sebesar Rp5 miliar untuk RSUD NTB di Sumbawa itu.

  Dengan demikian, pembangunan rumah sakit rujukan milik Pemprov NTB di Pulau Sumbawa itu, sudah didukung anggaran sebesar Rp80 miliar, dari total dana yang dibutuhkan sesuai "Detail Engineering Design (DED)" yang mencapai Rp183,2 miliar lebih, sehingga masih kekurangan Rp103,2 miliar lebih.

  Kini, sudah terbangun sejumlah bangunan yang sudah layak dioperasikan untuk melayani pasien. Bahkan, sudah ada penempatan personil baik tenaga administrasi maupun ahli medis dan paramedis.

  Hanya saja, sejauh ini RSUD NTB di Sumbawa itu baru didukung empat orang dokter umum, tanpa dokter ahli, sehingga sedang diupayakan keberadaan dokter ahli itu.

  Dokter ahli yang dimaksud antara lain dokter ahli anak, bedah, kandungan, fisiologi dan terapi kesehatan, serta dokter ahli rehabilitasi medis. 

  Ismail menambahkan, RSUD NTB di Sumbawa itu bertipe B yang tentunya harus dilengkapi sarana prasarana dan tenaga medis yang memadai, karena berdampak pada mutu, jenis dan cakupan pelayanan.   Sesuai rencana, rumah sakit itu berkapasitas 363 unit tempat tidur, terdiri dari 28 unit di ruang perawatan VIP, 47 unit ruang perawatan klas I, 93 unit ruang klas II dan 138 unit ruang klas III serta 57 unit ruang observasi. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026