Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram akan membangun pusat perdagangan berbagai jenis ikan laut khusus bagi pedagang pengumpul yang memasok komoditas tersebut dari beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Barat.
  Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram Lalu Alwan Basri, di Mataram, Minggu,  mengatakan, lokasi pembangunan pusat perdagangan ikan laut direncanakan dekat Pasar Tradisional Kebon Roek Ampenan. Luas lahan yang akan disediakan mencapai 35-45 are.
   "Rencana pembangunan pasar khusus untuk pedagang pengumpul ikan sudah dilaporkan dan sepertinya mendapat respon Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh," ujarnya.
  Ia belum mengetahui secara pasti nilai anggaran yang akan dialokasikan untuk pembangunan pusat perdagangan ikan laut tersebut, namun diperkirakan akan dialokasikan pada APBD Perubahan.
  Menurut Alwan, selama ini, para pedagang pengumpul yang mendatangkan berbagai jenis ikan laut dari Kabupaten Lombok Timur dan Pulau Sumbawa, NTB, serta dari nelayan lokal, memasarkan komoditas ikan laut menggunakan lahan milik sebuah yayasan yang berlokasi di sekitar Pasar Tradisional Kebon Roek Ampenan.
  Lahan milik yayasan tersebut saat ini masih disengketakan oleh ahli waris. Para pedagang pengumpul ikan yang sebelumnya memperoleh izin dari yayasan yang mengelola lahan tersebut diminta untuk tidak lagi memanfaatkan lahan tersebut.
  "Makanya dari pada bermasalah terus, lebih baik kita bangunkan pasar khusus untuk pedagang pengumpul ikan," ujarnya.
  Jika sarana penjualan berbagai jenis ikan laut tersebut sudah dibangun, kata dia, para pedagang pengumpul hanya diizinkan berjualan selama tiga jam agar para pedagang pengecer di Pasar Tradisional Kebon Roek Ampenan dan sekitarnya tidak merasa tersaingi.
  Para pedagang pengumpul juga akan dikenakan retribusi sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemerintah Kota Mataram.
  Potensi PAD dari pasar khusus untuk pedagang pengumpul ikan tersebut cukup besar karena jumlah pedagang pengumpul sekitar 60 orang.
  "Kami belum merancang bagaimana mekanisme penarikan retribusi. Kami fokus dulu pada rencana pembangunan fisik. Kalau sudah dibangun, baru dipikirkan nilai retribusinya," ujarnya.
  Alwan mengatakan, meskipun Kota Mataram bukan sentra ikan laut di NTB, namun transaksi perdagangan berbagai jenis ikan laut rata-rata mencapai 12 ton per hari.
  Ikan laut yang berasal dari nelayan di Kota Mataram dan sejumlah kabupaten di NTB, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sejumlah hotel di Kota Mataram dan kawasan wisata Sengigi, Kabupaten Lombok Barat.

(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026