Mataram, 16/12 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengklaim pertumbuhan ekonomi di provinsi itu sampai September 2011 mencapai 5,42 persen, yang mendekati target 6,25 persen.
"Hampir mencapai target pertumbuhan ekonomi 2011 yang ditetapkan sebesar 6,26 persen," kata Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi, saat menyampaikan pidato pada rapat paripurna istimewa di DPRD NTB, Jumat malam.
Rapat paripurna istimewa itu digelar untuk memeringati HUT ke-53 Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, 17 Desember 2011. Namun, tidak dihadiri oleh lima orang anggota DPRD NTB dari Fraksi PDI Perjuangan yang memilih "walkout" terkait mosi tidak terpacaya terhadap Ketua DPRD NTB H Lalu Sujirman.
Dalam pidatonya itu, Zainul menyampaikan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan pada berbagai sektor yang telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang menggembirakan.
Salah satunya yakni pertumbuhan ekonomi NTB yang bergerak maju hingga mendekati target 2011. Sampai September 2011 telah mencapai 5,42 persen dan diharapkan hasil penghitungan dalam tiga bulan terakhir (Oktober-Desember) dapat mencapai 6,25 persen, mengingat kemampuan keuangan pemerintah daerah mengalami peningkatan dan minat investasi swasta dan masyarakat semakin membaik.
Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB Rosiady Sayuti mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi NTB berada di atas rata-rata nasional.
Pada triwulan III 2010, pertumbuhan ekonomi NTB tercatat sebesar 13,01 persen, atau melebihi target rata-rata nasional yakni sebesar 5-6 persen. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi NTB di 2010 diproyeksikan mencapai enam persen.
Pertumbuhan ekonomi NTB yang dicapai pada 2008 dan 2009 pun berada jauh di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi NTB 2009 mencapai 5,26 persen sementara rata-rata nasional hanya 4,3 persen.
"Target pertumbuhan ekonomi NTB 2011 sebesar 6,25 persen, dan itu bisa dicapai mengingat usaha berbagai pihak cukup nyata," ujarnya.
Apalagi, kata Rosiadi, jika seluruh sektor pembangunan didukung daya akselerasi yang kuat, khususnya sektor pembangunan yang paling banyak menyerap tenaga kerja yakni pertanian dalam arti yang luas serta sektor industri.
Menurut dia, perbaikan ekonomi masyarakat NTB juga tergambar dari penurunan kemiskinan. Sektor ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian merupakan potensi terbesar di daerah itu.
Berdasarkan hasil Sussenas pada bulan Mei 2010, penurunan angka kemiskinan NTB berkurang 1,23 persen dari 22,78 persen penduduk miskin pada tahun 2009 menjadi 21,55 persen di 2010.
Rosiady mengatakan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 2011 itu, dibutuhkan nilai investasi sekitar Rp4,6 triliun lebih.
Kebutuhan nilai investasi itu, dapat dicapai karena wilayah NTB berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Kawasan Tenggara Indonesia karena didukung berbagai potensi ekonomi yang melimpah dan beragam.
"Potensi terbesar NTB yakni sumber daya alam berupa potensi agribisnis mulai dari sektor pertanian, peternakan, pertambangan, perikanan dan kelautan, industri dan perdagangan serta pariwisata dan jasa yang memungkinkan dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi kawasan kawasan tenggara," ujarnya.
Sektor tersebut merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB diluar sektor pertambangan, yang dibuktikan dengan status lumbung pangan nasional yang harus terus dipertahankan.
Karena itu, untuk mencapai kemajuan dan mengantar NTB ke posisi maju dan bersaing, Pemerintah Provinsi NTB telah meluncurkan sejumlah program unggulan yang akan dicapai pada tahun 2012 dan 2013.
Program unggulan itu yakni NTB Bumi Sejuta Sapi (BSS) dengan daya dukung lahan dan pengembangan ternak mencapai 1.928.300 hektare dengan daya tampung ternak 2.655.294 AU (animnal unit) dan ketersediaan pakan ternak sebanyak 7.967.243 ton.
Program unggulan lainnya yang diluncurkan yakni Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012 dengan target sejuta wisatawan, provinsi koperasi dan UKM, penciptaan 100 ribu wirausaha baru.
Selain itu, NTB juga sangat berpotensi di sektor perikanan dan kelautan yakni memiliki potensi perikanan tangkap seluas 31.143 kilometer persegi, potensi produksi 102.804 ton, potensi lestari 98.450 ton dan tingkat produksi 79.729 ton (81,98 persen).
Sementara potensi perikanan budi daya laut berupa kerang mutiara dan abalone seluas 18.391 hektare, budidaya kerang mutiara darah dan tiram seluas 1.300 hektare, budidaya teripang seluas 3.600 hektare, budidaya kerapu seluas 241,1 hektare, budidaya rumput laut seluas 5.510,3 hektare.
"Sayangnya dari sekian banyak potensi ekonomi yang kita miliki itu, sejauh ini belum dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dirumuskan metoda pengelolaan sumber daya alam yang tepat dan berdaya guna," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026