Mataram, 21/12 (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi, mengajak masyarakat di Pulau Lombok untuk meningkatkan penghormatan kepada para leluhur agar peradaban tetap terjaga dan nilai-nilai kebudayaan tetap kokoh dalam proses pembangunan daerah, bangsa dan negara.

  Ajakan itu disampaikan pada pembukaan "Sangkep Beleq" (pertemuan akbar) Majelis Adat Sasak (MAS) III, di Mataram, Rabu, yang dihadiri seratusan tokoh dan masyarakat adat suku Sasak (suku di Pulau Lombok).

  "Dalam ilmu agama juga diwajibkan menghormati para leluhur, dan itu amat peting karena belakangan banyak nilai-nilai yang mulai rapuh, sehingga ada kesan anak-anak kurang menghormati para leluhurnya," ujar Zainul.

  Gubernur yang berasal dari kalangan ulama kharismatik itu, juga mengajak masyarakat Sasak untuk menempatkan "Sangkep Beleq" sebagai momentum pembelajaran sekaligus menghargai peradaban yang diwariskan para leluhur.

  Pembelajaran tentang peradaban, dapat dimulai dari diri sendiri, orangtua, komponen masyarakat lain, etnis lain, dan bangsa lain, agar pengetahuan tentang peradaban makin luas.

  "Yang lebih penting kita belajar menghargai diri sendiri, bukan bermakna sombongkan diri. sebagai orang Sasak, menghargai diri sendiri itu berarti menghargai kesasakan (makna kesukuan di kalangan rang Sasak)," ujarnya.

  Ia menyontohkan, bangsa Cina yang begitu menghargai peradaban yang dibuktikan dengan sikap dan perilaku menghargai para leluhurnya.

  Cina menjadi bangsa yang maju di bidang ekonomi, produk Cina banyak beredar di berbagai negara, dan ketahanan pangannya relatif baik.

  "Saya pernah membaca buku tentang Cina, satu dari empat peradaban yang sangat dijunjung tinggi bangsa Cina yakni penghormatan kepada para leluhurnya. Tentu, sebagai orang Sasak yang beragama Islam, bentuk pernghormatan kepada para leluhurnya agak berbeda, namun menghormati leluhur akan menguatkan nilai-nilai moral yang rapuh," ujarnya.

  Zainul juga mengingatkan masyarakat Sasak agar berupaya memahami dan mengetahui secara jelas peradaban Sasak, termasuk didalamnya kebudayaan yang perlu dilestarikan, agar disaat mempelajari peradaban orang lain, masih tetap memahami peradabannya sendiri.

  "Jangan sampai kita pelajari peradaban bangsa lain, lalu ketika ditanya peradaban Sasak lalu tengak-tengok pertanda bingung hendak menjawab apa. Makanya marilah kita semua belajar dari orangtua kita, agar selalu menghormati para leluhur," ujarnya.

   Dihadapan para tokoh adat Sasak, Gubernur NTB periode 2008-2013 itu, Zainul juga menekankan pentingnya menjadikan "Sangkep Beleq" MAS yang digelar setiap tahun itu, sebagai wadah silaturahmi masyarakat Sasak.

   Di era modern ini, pertemuan adat tidak harus dibatasi pada tingkatan usia atau ketokohan, karena generasi muda penerus bangsa juga berhak ikut membicarakan kebudayaaan dan segala peradabannya yang diwariskan para leluhur.

   "Jangan kalau bicara adat, lalu syaratnya yang usia 70-an, yang tokoh adat saja, tetapi libatkan juga generasi muda yang memahami perkembangan adat, agar semua pihak merasa dirinya sebagai modal dalam proses pembangunan," ujarnya.

   Ia juga menekankan bahwa adat dengan keseluruhan bentuknya seperti seni, nilai-nilai budaya, perilaku keseharian, tidak sama dengan agama, karena kebudayaan merupakan hasil karya manusia, sementara agama datangnya dari Allah.

   "Adat itu amat penting tetapi merupakan hasil karya manusia, dan setiap saat boleh saja membicarakan persoalan adat, tetapi tidak boleh ada masalah. Karena itu, harus berbicara dengan ikhlas disertai sikap selaing menghormati," ujar Zainul. (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026