"Tahapan komersial operasi atau Commercial Operating Date (COD) ditargetkan Maret 2012, kalau pertengahan Februari sudah masuk ke sistem jaringan," kata Manager Unit Pelaksana Konstruksi Pembangkit dan Jaringan Nusa Tenggara II PT PLN M Dahlan Djamaludin di Mataram, Rabu.
Dahlan mengemukakan hal itu sesaat setelah Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi dan rombongan Pemprov NTB meninggalkan lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di Dusun Taman dan Dusun Jeranjang, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat itu.
Ia mengatakan, semua suku cadang yang didatangkan dari China sudah tiba dan sudah dipasang serta diuji coba.
Suku cadang yang terakhir ditunggu yakni pompa minyak sudah tiba Selasa (10/1) dan sudah langsung dipasang. Suku cadang itu dipesan kembali setelah yang ada rusak dalam tahapan uji coba.
"Soal suku cadang Insya Allah tidak ada masalah lagi, dan sekarang sudah masuk tahapan 'stim blow' atau kegiatan seperti memasak air yang waktunya normalnya 14 hari sampai derajat pemanasan yang dikehendaki yakni 500 derajat dengan tekanan 90 bar. Pada proyek PLTU di tempat lain bahkan bisa sampai sebulan," ujarnya.
Tahapan "steam blow" itu setelah tahapan "Curing" (pelembaban dan perendaman) berupa pengoperasian batu tahan api (refraction) dalam "broiler" yang membutuhkan waktu paling sedikit delapan hari, terlaksana.
Selanjutnya, tahapan uji keandalan (reliability run test) sistem selama 30 hari tanpa mesin mati, guna mengukur kapasitas energi listrik yang dihasilkan yakni 25 Mega Watt (MW) sesuai perencanaan.
"Tadi, saat Gubernur NTB meninjau lokasi uji keandalan mesin masih terdengar suara berisik, yang berarti belum sempurna atau masih ada kendala, yang akan dirampung dalam dua hari ini. Semestinya tidak boleh ada suara berisik di mesin pendingin itu," ujarnya.
Menurut Dahlan, uji kendalan itu harus sempurna selama 30 hari, karena kalau mesin mati sebelum hari ke-30, maka harus diulang dari awal.
Uji keandalan itu sudah pernah dilakukan pada Desember 2011, namun memasuki hari ke-29 ternyata mesin mati, sehingga dilakukan pengujian ulang.
"Mudah-mudahan tidak ada kendala lagi, agar bisa masuk tahapan COD setelah tahapan sinkroninasi sistem yang dijadwalkan pertengahan Februari 2012 terlaksana sesuai rencana," ujarnya.
Tahapan sinkronisasi sistem harus diawali dengan persiapan "Silencer" yang membutuhkan waktu lima hari, kemudian masuk tahapan "loading test" yang juga butuh waktu lima hari.
Kendala lainnya, kata Dahlan, yakni timbangan batubara yang belum akurat sehingga pihak kontraktor masih harus memperbaikinya.
Jumlah batubara yang dimasukkan ke "broiler" untuk pemanasan harus sesuai takaran, misalnya sebanyak tiga kilogram maka harus tepat.
"Saya sudah minta kontraktor untuk perbaiki, jangan sampai jadi kendala lagi saat hendak memasuki tahapan komersial operasi," ujarnya.
Seperti diketahui, proyek PLTU Batubara di Lombok itu, semula hendak diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat peresmian Bandara Internasional Lombok (BIL) di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, sekitar 40 kilometer arah selatan Kota Mataram, pada 20 Oktober 2011.
Namun, proyek PLTU itu batal diresmikan karena belum rampung, akibat berbagai kendala teknis dan non-teknis.
Pemerintah membangun PLTU Batubara di Dusun Taman dan Dusun Jeranjang, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, yang dikerjakan sejak 30 April 2009.
PLTU yang dibangun di Dusun Taman dinamakan PLTU 1 Lombok berkapasitas 1 x 25 MW yang dibiayai oleh APBN sesuai DIPA Departemen ESDM tahun anggaran 2009, yang semula ditargetkan beroperasi pada triwulan kedua tahun 2010, namun tertunda hingga kini.
Total biaya pembangunan PLTU 1 Lombok itu sebesar Rp296,3 miliar, dan khusus tahun anggaran 2009 pelaksanaan proyek tersebut mendapat dukungan dana stimulus sebesar Rp68,8 miliar selain alokasi DIPA reguler tahun 2009 sebesar Rp64,2 miliar.
Pelaksanaan proyek PLTU 1 Lombok itu dipercayakan kepada perusahaan konsorsium yang terdiri dari PT Wasa Mitra Engineering, PT Twink Indonesia dan PT Ciria Putra Sinergi.
Sementara PLTU di Dusun Jeranjang dinamakan PLTU 2 Lombok berkapasitas 2 x 25 MW yang dibiayai dari anggaran PLN (APLN) yang juga merupakan bagian dari Program Percepatan 10 ribu MW Tahap I.
Pembangunan PLTU 2 Lombok itu dipercayakan kepada PT Barata Indonesia (Persero) dengan sistem "turnkey" (EPC), dengan nilai kontrak yang terbagi dalam dua bagian mata uang yakni sebanyak 30,7 juta dolar AS dan Rp354,3 miliar. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026