Kota Bima, 17/1 (ANTARA) - Sebanyak tiga sekolah di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat masih terisolir karena jauh dari perkotaan dan jalan juga tidak bisa dilewati kendaraan roda empat, sehingga mempengaruhi kualitas pendidikan di wilayah itu.

  Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Kota Bima H Nurdin H Mansyur di Bima mengatakan,  tiga sekolah yang masih dikategorikan terisolisasi tersebut adalah SD Negeri 76 Kota Bima, di Dusun Kabanta, Madrasah Ibtidaiyah dan MTs Dusun Ndano Nae, Kelurahan Nungga, Kecamatan Rasanae Timur.

  "Sekolah itu berada di atas pegunungan dekat perbatasan Kota Bima dengan Kabupaten Bima. Jarak sekolah itu dari Kota Bima sekitar 15 kilometer. Untuk bisa sampai ke lokasi itu tidak bisa menggunakan mobil. Bisa menggunakan sepeda motor, tapi melalui medan cukup berat," katanya.

  Jumlah siswa yang mengenyam pendidikan di ketiga sekolah tersebut mencapai ratusan orang. Seluruh siswa berasal dari keluarga petani yang rumahnya memang terpencar-pencar.  

  Selain jarak yang cukup jauh, menurut dia, kondisi jalan menuju tiga sekolah tersebut rusak parah, terjal dan berbukit. Kondisinya akan bertambah parah ketika musim penghujan. Sebagian besar jalan licin, sehingga sulit dilewati kendaraan roda dua, apalagi roda empat.

  Dengan kondisi jalan seperti itu, lanjut Nurdin, pihaknya juga mengalami kesulitan ketika berkunjung ke daerah itu untuk membawa bantuan fasilitas pendidikan.

  "Untuk memperlancar distribusi logistik pendidikan sesekali waktu dilakukan dengan menggunakan kuda dipandu oleh warga setempat. Kalau tidak pakai tenaga hewan itu, bagaimana kami bisa menyalurkan bantuan sarana dan prasarana penunjang pendidikan," ujarnya.

  Menurut dia, masih terisolisasinya tiga sekolah tersebut dikhawatirkan akan berdampak terhadap angka putus sekolah. Kondisi daerah yang minim sarana transportasi dan telekomunikasi bisa mengakibatkan motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP) menjadi menurun.

  Anak-anak yang tamat sekolah dasar terpaksa melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP dan SMA di kecamatan lain atau ke Kota Bima dengan mengeluarkan biaya cukup besar untuk membayar kos.

  Untuk itu, kata Nurdin, Pemerintah Kota Bima akan berupaya menjadikan SDN 76 Kota Bima menjadi sekolah satu atap, sehingga semua siswa yang lulus SD di wilayah itu mampu menamatkan wajib belajar sembilan tahun.

  "Kami juga sudah koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kota Bima agar memperhatikan kondisi MI dan MTs di Ndano Nae," ujarnya.

  Nurdin juga prihatin dengan kondisi kesejahteraan para guru yang mengajar di tiga sekolah yang mnasih terisolasi tersebut. Selama ini guru yang mengajar di SDN 76 Kota Bima sebanyak 10 orang tidak mendapatkan tunjangan khusus guru daerah terpencil karena wilayah kerjanya masuk kategori wilayah perkotaan.

  Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan Profesor, tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada guru dan dosen yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di daerah khusus.

  Daerah khusus adalah daerah terpencil atau terbelakang, daerah dengan kondisi masyarakat adat terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lainnya.

  Kota Bima, kata dia, merupakan satu-satunya kota di Provinsi NTB yang masih memiliki sekolah di daerah terisolasi. Namun, di dalam aturan tidak ada istilah kelurahan terisolasi di wilayah perkotaan.

  "Itu yang menjadi kendala bagi kami mengusulkan para guru yang sudah mengabdi belasan tahun di SDN 76, bisa mendapatkan tunjangan khusus guru daerah terpencil. Tapi kami akan mengupayakan dari dana APBD," katanya.

(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026