"Setiap hari saya dan teman-teman harus melewati jembatan darurat yang terbuat dari beberapa batang bambu agar bisa sampai ke sekolah," kata Widia, siswa kelas dua Sekolah Dasar Satu Atap Dusun Batu Rimba, ketika ditemui usai pulang sekolah, di Lombok Barat, Selasa.
Ia mengaku setiap hari berjalan kaki ke sekolahnya yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya di Dusun Rumbuk, Desa Batu Mekar. Selain melewati jembatan, jalan becek juga harus dilalui tanpa menggunakan sepatu.
Widia terkadang takut terjatuh ketika melewati jembatan darurat dari batang bambu dengan panjang sekitar 10 meter yang dibangun di atas sungai Sokot yang dibawahnya dipenuhi bebatuan besar.
"Saya kadang takut lewati jembatan, apalagi kalau air sungai deras. Makanya sering saya digendong oleh bapak menyeberang sungai agar bisa sampai ke sekolah," ujarnya.
Salah seorang tokoh masyarakat Dusun Rumbuk, Murte, mengatakan, masyarakat di wilayahnya terpaksa membuat jembatan darurat dari bambu karena jembatan permanen yang dibangun secara swadaya pada tahun 1993 hancur diterjang derasnya air sungai Sokot, sekitar satu tahun lalu.
Namun, kata dia, jembatan darurat tersebut terkadang tidak bisa dilewati oleh warga pada saat air sungai meluap dan menenggelamkan jembatan darurat yang tidak memiliki pegangan untuk pengaman agar pengguna tidak jatuh ke bebatuan di dasar sungai.
"Masyarakat bersama kepala desa sudah mengupayakan agar Pemkab Lombok Barat mau memberikan dana bantuan untuk pembangunan jembatan permanen. Informasinya akan dibantu, tapi saya belum tahu pasti kapan," ujarnya.
Kepala Sekolah Satu Atap Dusun Batu Rimba Khairul Fathi, mengatakan, pada saat cuaca buruk dan kondisi air sungai meluap, para siswa, khususnya dari Dusun Rumbuk terpaksa diliburkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada saat melewati sungai.
Jumlah siswa sekolah dasar yang dipimpinnya mencapai 132 orang. Sebanyak 80 orang berasal dari Dusun Rumbuk, sisanya dari Dusun Montang dan Batu Rimba.
Meskipun diliburkan masuk sekolah, kata dia, para guru tetap memberikan materi pelajaran dengan mengumpulkan murid-muridnya di gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ada di Dusun Rumbuk. Proses pembelajaran dilakukan seperti les.
"Seluruh siswa yang berasal dari Dusun Rumbuk diliburkan kalau air sungai meluap dan kondisi jembatan tidak memungkinkan untuk dilalui. Sementara siswa dari dusun lainnya tetap masuk," ujarnya.
Warga Dusun Rumbuk yang belum mendapat akses listrik dan sarana telekomunikasi memadai berharap kepada pemerintah segera membantu menangani masalah infrastruktur pendukung kelancaran kegiatan pendidikan dan ekonomi masyarakat. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026