Mataram, 15/4 (ANTARA) - Penemuan kasus HIV/AIDS di Nusa Tenggara Barat (NTB)  cenderung meningkat setiap tahun, hingga Maret 2009 tercatat 236 kasus, sebanyak 146 kasus di antaranya HIV positif dan 91 kasus AIDS.

   Gubernur NTB, HM Zainul Majdi dalam sambutan tertulis dibacakan Staf Ahli Gubernur bidang Pendidikan dan Kesehatan, H Soedaryanto, SKM  di Mataram, Rabu mengatakan, kasus HIV tersebut meningkat dibandingkan 2008 sebanyak 134 kasus.

  "Begitu pula kasus AIDS meningkat dibandingkan 2008 sebanyak 78 kasus. Dari 91 kasus AIDS pada 2009  tercatat 56 penderita meninggal dunia," katanya pada acara Rapat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Sosialisasi Perda Penanggulangan HIV/AIDS.

   Ia mengatakan, jika dicermati lebih jauh, dari penemuan kasus HIV/AIDS tersebut dapat diketahui bahwa kelompok umur terbanyak yang berisiko tinggi HIV/AIDS adalah kelompok usia produktif, yakni usia 20-40 tahun.

  "Selain itu juga ditemukan kelompok usia termuda, yakni tiga kasus HIV pada usia 1-4 tahun dan satu kasus AIDS pada usia 0-1 tahun," katanya.

Ia mengatakan, dari segi profesi terjadi kecenderungan bahwa pada pekerja swasta merupakan golongan terbanyak tertular kasus HIV, yakni 45 orang dari 33 orang untuk kasus AIDS.

"Kasus HIV juga ditemukan pada golongan ibu rumah tangga yang sebanyak 17 orang dan AIDS 11 orang serta  golongan yang tidak bekerja 22 orang untuk kasus HIV dan 27 orang AIDS," ujarnya.

   Menurut dia, berdasarkan faktor risiko, peringkat pertama penularan HIV/AIDS disebabkan perilaku heteroseksual sebanyak 114 orang disusul  pengguna jarum suntik 80 kasus, karena tidak tahu 22 kasus dan akibat homoseksual delapan kasus serta perinatal sebanyak tujuh kasus.

   "Perkembangan kasus HIV dan AIDS itu cukup mengkhawatir, karena itu menjadi tugas kita untuk menyatukan langkah dan pemahaman mengenai berbagai program pencegahan kasus HIV/AIDS," katanya.

   Menurut dia, dalam hal ini dibutukan surveilans, seperti sistem pencatatan dan pelaporan yang sistematis untuk terus memantau penemuan kasus yang kemungkinan meningkat dari waktu ke waktu.

  "Pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS tergantung dari komitmen politik dan  kesungguhan pemerintah khususnya pemerintahan terdepan, seperti RT, dusun, desa/kelurahan sebagai ujung tombak yang berhubungan langsung dengan masyakarat," katanya.

   Hal ini disebabkan penyebaran HIV/AIDS bukan semata-mata masalah kesehatan, tetapi mempunyai implikasi politik, ekonomi, sosial, agama dan hukum yang pada akhirnya menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.

   Ia mengatakan, untuk meningkatkan upaya penanggulangan HIV/AIDS di NTB , KPA provinsi telah menghasilkan beberapa capaian, antara lain berupa Perda 11/2008 tentang Pencegahan dan Penggulangan HIV AIDS, strategi daerah penanggulangan HIV/AIDS dan rencana aksi daerah penanggulangan HIV/AIDS dengan melibatkan dinas/instansi terkait, LSM, akademisi, tokoh masyarakat dan tokoh agama. (*)

 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026