Mataram, 8/5 (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bekerja sama dengan ahli kebumian Jerman, memprogramkan studi "georisk" atau resiko bencana akibat faktor geologi, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
  "Badan Geologi hendak menjadikan Pulau Lombok sebagai model studi 'georisk' dan dalam pelaksanaan studi itu juga melibatkan ahli kebumian dari Georisk Project-BGR Jerman," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nusa Tenggara Barat (NTB) Eko Bambang Sutedjo, usai pertemuan koordinasi di ruang kerja Wakil Gubernur NTB, di Mataram, Selasa.
  Pertemuan koordinasi itu digelar bersama Sekretaris Badan Geologi Dr Ir Yun Yunus Kusumahbrata, yang juga dihadiri sejumlah peneliti Georisk Project-BGR Jerman. 
  Georisk Project-BGR Jerman merupakan lembaga peneliti bentukan Lembaga Pengetahuan Kebumian dan Sumber Daya Alam Republik Federal Jerman (BGR), yang sudah terlibat dalam berbagai penelitian tentang gerakan tanah dan bencana beraspek geologi di sejumlah daerah di Indonesia.
  Eko mengatakan, dalam pertemuan itu Yunus mengungkapkan rencana studi "georisk" di Pulau Lombok, dan mengharapkan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB.
  "Tentu Pemprov NTB menyambut baik hal itu dan berharap kerja sama itu dapat dimulai tahun ini," ujarnya.
  Untuk kelancaran kerja sama itu, kata Eko, Pemprov NTB diwakili oleh Distamben dan Badan Lingkungan Hidup dan Penelitian (BLHP) guna menyikapi bentuk-bentuk kerja sama dan implementasi studi "georisk' itu.
  Sebagai contoh, penelitian tentang lokasi potensial tanah longsor atau pergerakan tanah dan bencana beraspek geologi.
  Selain itu, Badan Geologi juga menawarkan dukungan penanganan daerah-daerah yang kekurangan air bersih, melalui pengembangan sumur bor.
  Badan Geologi juga menawarkan dukungan percepatan pengembangan geopark (taman bumi) Pulau Lombok. Selain Rinjani, Lombok memiliki karakter geologi yang khas yakni di Pantai Selatan Pulau Lombok, tepatnya di Tanjung An, berupa hamparan pasir putih yang dihiasi goa karang.
  "Itu salah satu warisan geologi yang dulu dijadikan tempat untuk studi dan kegiatan geologi lainnya," ujarnya.
  Menurut Eko, jalinan kerja sama bidang geologi itu akan diawali dengan pengembangan kapasitas Sumbr Daya Manusia (SDM) dan peralatan pendukung.
  Lembaga Pengetahuan Kebumian dan Sumber Daya Alam Republik Federal Jerman akan memberikan dukungan anggaran untuk peningkatan peralatan geologi dan kualitas SDM.
  "Selain bantu alat, nanti ada pelatihan agar SDM geologi di NTB semakin baik, dan akan menjadi model pengelolaan kebencanaan terkait geologi, dan bisa juga untuk mengurangi risiko bencana atau meminimalisir korban, karena akan ada sosialisasi di berbagai lapisan masyarakat," ujarnya. (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026