Mataram, 10/5 (ANTARA) - Kepala Divisi Regional Badan Urusan Logistik Nusa Tenggara Barat Rusdiyanto mengungkapkan, tunggakan pembayaran beras untuk keluarga miskin atau raskin yang disalurkan sejak Januari hingga Mei 2012, mencapai Rp16,8 miliar.

  "Ada 2.300 ton raskin yang sudah disalurkan tetapi belum dibayar yang nilainya mencapai Rp16,8 miliar. Itu tunggakan berjalan yang harus dilunasi sebelum disalurkan jatah baru," kata Rusdiyanto, di Mataram, Kamis.

  Ia mengatakan, jatah raskin yang sudah disalurkan sampai awal Mei 2012 mencapai 41.500 ton, termasuk 2.300 ton yang sudah disalurkan namun belum dilunasi pembayarannya.

  Khusus penyaluran raskin jatah Januari dan Februari 2012, Bulog NTB menyalurkan sekaligus sejak akhir Januari, sesuai instruksi Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Sosial dan Perumahan Rakyat Kementerian Koordinator (Kemko) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Adang Setiana, 6 Januari 2012.

  Penyaluran raskin diawal 2012 itu dipercepat karena beralasan petani pada tenggang waktu itu tengah mengalami musim paceklik, dan adanya cuaca buruk yang memengaruhi ketersediaan stok pangan.

  Penyaluran raskin jatah Januari hingga Mei 2012, masih menggunakan data lama atau kuota raskin 2011, karena Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat belum menetapkan kuota raskin 2012.

  Sesuai kuota 2011, jatah raskin untuk NTB mencapai 8.500 ton sebulan, yang diperuntukan kepada sebanyak 100.670.400 kilogram untuk 559.280 rumah tangga sasaran (RTS), yang  disalurkan melalui 916 titik distribusi atau 916 desa pada 116 kecamatan yang menyebar di 10 kabupaten/kota di wilayah NTB.

   Setiap RTS mendapat jatah 15 kilogram per bulan dengan harga tebus sebesar Rp1.600 per kilogram di titik distribusi.

   Rinciannya, pagu raskin untuk Kota Mataram sebanyak 4.623.480 kilogram untuk 25.686 RTS, Kabupaten Lombok Barat sebanyak 16.242.840 kilogram untuk 90.238 RTS, Lombok Utara sebanyak 5.601.960 kilogram untuk 31.122 RTS, Lombok Tengah sebanyak 23.061.960 kilogram untuk 128.122 RTS, Lombok Timur sebanyak 25.814.700 kilogram untuk 143.415 RTS.

   Pagu raskin untuk Kabupaten Sumbawa sebanyak 7.373.160 kilogram yang diperuntukannya kepada 40.962 RTS, Sumbawa Barat sebanyak 1.630.980 kilogram untuk 9.061 RTS, Dompu sebanyak 4.830.480 kilogram untuk 26.836 RTS, Kabupaten Bima sebanyak 9.798.660 kilogram untuk 54.437 RTS dan Kota Bima sebanyak 1.692.180 kilogram untuk 9.401 RTS.

  Untuk penyaluran raskin jatah Juni hingga Desember 2012, Bulog NTB masih menunggu penetapan kuota baru, oleh Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

  Stok beras untuk jatah raskin itu bersumber dari penyerapan beras petani sejak akhir 2011 hingga kini yang tercatat telah mencapai 75 ribu ton dari target sebanyak 180 ribu ton sepanjang 2012.

  Dalam penyerapan beras petani itu, Bulog mempedomani Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang berlaku. 

  HPP itu merupakan harga yang berlaku saat beras petani dimasukkan ke gudang bulog oleh para pedagang pengumpul atau mitra kerja bulog yang juga membeli dari petani produsen dengan harga sedikit lebih rendah dari HPP.

  Pada awal 2011 pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2011 tentang Kebijakan Perberasan, yang memberikan fleksibilitas kepada Bulog untuk membeli beras petani di atas HPP beras.

  HPP untuk beras petani di 2012 sebesar Rp6.600/kilogram (kg). Besaran HPP ini mengalami kenaikan 30 persen atau sebesar Rp1.540/kg dari HPP terakhir yang ditetapkan tahun 2009 sebesar Rp5.060/kilogram.

  Untuk HPP gabah kering panen (GKP) di petani ditetapkan sebesar Rp3.300/kg, GKP di penggilingan Rp3.350/kg, gabah kering giling (GKG) di penggilingan Rp4.150/kg, sedangkan GKG di gudang Bulog Rp4.200/kg.

  "Dalam penyerapan beras petani itu, kami libatkan 160 mitra usaha, 12 unit satgas guna memperlancar penyerapan di tingkat penggilingan skala kecil yang terbentur perizinan, dan para gapoktan (gabungan kelompok tani)," ujar Rusdiyanto. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026