"Ini bagian dari upaya Indonesia memperkenalkan potensi wisata, selain potensi pangan yang dibahas dalam pertemuan lanjutan D-8," kata Kepala Bidang Regional Pusat Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertanian Andy Jaya Dermawan, di sela-sela "field trip" delegasi D-8 di Pulau Lombok. Jumat.
Delegasi pertemuan D-8 itu mengunjungi objek wisata desa adat tradisional suku Sasak yakni Desa Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, sekitar 50 kilometer arah selatan Kota Mataram, atau sekitar 64 kilometer dari kawasan wisata Senggigi.
Mereka juga berkesempatan mengunjungi taman Narmada, di Kabupaten Lombok Barat, guna melihat dari dekat sumur awet muda.
Taman Narmada itu letaknya sekitar 20 kilometer arah timur Kota Mataram itu merupakan tiruan dari Gunung Rinjani yang memiliki Danau Segara Anak.
Topografi taman berbentuk pegunungan menyerupai Gunung Rinjani yang dilengkapi kolam di tiga lokasi yang dicirikan sebagai Danau Segara Anak.
Pengunjung taman itu diperbolehkan menggunakan salah satu kolam untuk berenang dan bercengkrama dengan sanak keluarga atau kerabatnya.
"Field trip" itu digelar usai pembahasan berbagai isu sentral yang diusung peserta pertemuan D-8, terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan global.
Isu sentral itu yakni finalisasi rencana kerja kelompok diskusi perdagangan dan standarisasi, dan kelompok diskusi pengembangan perikanan dan kelautan, dan pembahasan tentang jaringan informasi manajemen pertanian negara anggota D-8.
Peserta pertemuan D-8 juga mempertimbangkan dan mengadopsi program-program D-8 khususnya di bidang ketahanan pangan, dan mendukung pihak investor dan sektor swasta lainnya dalam mengembangkan program-program investasi khusus di bidang produksi pangan.
Pertemuan D-8 bidang ketahanan pangan itu berlangsung di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, sekitar 13 kilometer dari Kota Mataram.
Pertemuan tersebut dimulai sejak Rabu (3/10) pagi, dan akan berakhir Jumat (5/10) malam, yang digelar di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat.
Hari pertama pertemuan diawali dengan kelompok diskusi (working group), dan dilanjutkan dengan pertemuan level pejabat tinggi, pada Kamis (4/10), dan pertemuan level menteri pada Jumat (5/10).
Terdapat lima kelompok diskusi sesuai bidang pembahasan yakni pakan ternak, benih, standarisasi produk, industri pupuk, dan bidang perikanan.
Pertemuan D-8 yang digelar di Lombok itu merupakan kegiatan ketiga setelah pertemuan pertama di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2009, kemudian pertemuan kedua di Teheran, Iran, pada 2011.
Pesertanya sekitar 70 hingga 100 orang dari delapan negara berkembang, yakni Iran, Pakistan, Malaysia, Nigeria, Mesir, Bangladesh, Turki, dan Indonesia.
Pertemuan D-8 di Lombok itu juga diwarnai pemeran yang melibatkan pelaku usaha terkait lima area kerja sama ketahanan pangan, yakni bank benih, makan ternak, kelautan dan perikanan, dan standar dan isu perdagangan, serta fertilisasi. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026