Mataram, 11/10 (ANTARA) - Kongres Nasional (Konas) VIII Pengelolaan Sumber Daya Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil, segera digelar di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dijadwalkan, 22-24 Oktober 2012.

  "Konas itu akan dipadukan dengan forum bisnis dan eksibisi berskala internasional, atau Seaweed International Business Forum and Exhibition (Seabfex) IV, yang berlokasi di Hotel Lombok Raya Mataram," kata Kabag Humas dan Protokoler Setda NTB Tri Budiprayitno, di Mataram, Kamis.

  Tri mengatakan, panitia penyelenggara menginformasikan bahwa Konas Pengelolaan Sumber Daya Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil, dan Seabfex itu, akan dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo, dan menteri terkait seperti Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).  

  Selain itu, akan dihadiri pengusaha nasional Aburizal Bakrie (mantan Menko Kesra), DR Sarwono Kusumaatmadja (mantan Sekjen Golkar dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara), dan Prof DR Emil Salim (Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, dan mantan sejumlah jabatan menteri).  

  "Khusus untuk Seabfex,  pejabat kementerian terkait dari 12 negara akan hadir. Tujuh dari 12 negara sudah mengonfirmasi kehadirannya, antara lain Jepang, Korea, Brazil, Argentina, Chili, Meksiko dan China," ujarnya.

  Delegasi dari lima negara lainnya juga diundang untuk menghadiri Seabfex di Lombok, yakni Belanda, Philipina, Australia, Hongkong, dan Vietnam.

  Sebelumnya, Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemasaran Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB H Ismail mengatakan, ratusan pengusaha rumput laut dari berbagai negara di dunia akan ke Pulau Lombok, NTB guna menghadiri Seabfex) IV.

  "Jumlah pesertanya diperkirakan lebih dari 1.000 orang karena Seabfex IV itu akan dipadukan dengan sejumlah kegiatan penting lainnya, dan ratusan orang diantaranya merupakan pengusaha rumput laut," ujarnya.

  Ismail mengatakan, selain Seabfex dan Konas VIII Pengelolaan Sumber Daya Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil itu, juga diagendakan Lokakarya Nasional Mitra Bahari XVI, Pertemuan Ilmiah Ikatan Sarjana Oseanografi Indonesia (ISOI) IX, Workshop Ocean Policy – Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN).

  Selain itu, Lokakarya Industrialisasi Usaha Garam, Bimbingan Teknis Pengembangan Desa Pesisir Tangguh, dan eksibisi atau pameran.

  "Total pesertanya dapat mencapai seribu orang, termasuk ratusan pengusaha rumput laut dari berbagai negara itu," ujarnya.

  Provinsi NTB ditetapkan sebagai tuan rumah kegiatan internasional itu pada Seabfex III 2010 yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur.

  Penunjukan NTB sebagai tuan rumah, antara lain untuk memotivasi pengembangan rumput laut secara besar-besaran, disertai peningkatan kualitas. 

  Kegiatan internasional itu akan mempertemukan pelaku bisnis, produsen dan konsumen. Bahkan calon investor, serta para pakar rumput laut yang akan urun rembuk di acara tersebut.

  Pertemuan tatap muka dalam berbagai kegiatan internasional itu, antara lain akan melibatkan pakar perencanaan pengelolaan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu, pakar IPTEK dalam industrialisasi kelautan tanpa limbah (zero waste), dan pakar revitalisasi dan aktualisasi sosial budaya bahari, serta pakar rancang bangun dan tata kelola industrialisasi kelautan.

  Seabfex merupakan pertemuan rutin dua tahunan yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan, di lokasi yang berpindah-pindah.

  Seabfex I tahun 2006 digelar di Bali, kemudian Seabfex II 2008 di Makkasar, Sulawesi Selatan, dan Seabfex III 2010 di Surabaya, Jawa Timur, serta kini di Lombok, NTB.

  Dasar pelaksanaan rutin Seabfex itu yakni Indonesia merupakan produsen terbesar rumput laut jenis Cottonii dan sangat berpotensi untuk pengembangan jenis rumput lainnya, karena 45 persen species rumput laut dunia ada di Indonesia.

  Saat ini, sebagian besar rumput laut diekspor dalam bentuk rumput laut kering dan hanya sekitar 20 persen yang diolah oleh industri dalam negeri, sehingga perlu dioptimalkan lagi, agar produknya dapat berbentuki bahan baku seperti produk pangan (agar), odol, farmasi serta kosmetika.

  Kini, terdapat 27 industri rumput laut di Indonesia, namun, mayoritas baru menghasilkan rumput laut kering ATC (bahan baku dasar) atau industrial Grade. Sementara semi refine carrageenan (SRC) sebanyak enam dan baru satu berbentuk RC. (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026