Mataram, 8/11 (ANTARA) - Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat  memperkirakan 600 nelayan di daerahnya tidak memiliki perahu yang digunakan untuk mencari ikan di laut atau menjadi buruh nelayan.

  "Dari 1.400 nelayan yang terdata, sekitar 600 orang menjadi buruh nelayan atau meminjam perahu orang lain dengan sistem bagi hasil," kata Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram H Mazhuriadi, di Mataram, Kamis.

  Menurut dia, para nelayan tersebut tersebar di beberapa perkampungan nelayan di Kota Mataram, seperti Kampung Bugis, Kampung Banjar, Bintaro, Karang Panas dan Tanjung Karang.

  Sebagian besar nelayan di Kota Mataram, masuk dalam kategori miskin karena hasil menangkap ikan tergolong rendah. Hal itu terjadi karena peralatan menangkap ikan tergolong tradisional dan hanya mampu menangkap ikan berukuran relatif kecil seperti ikan tongkol dan lembain.

  Selain itu, katanya, para nelayan juga menggunakan perahu berukuran relatif kecil yang menggunakan  mesin tempel atau mesin ketinting sehingga hanya mampu mencari ikan sejauh empat mil dari bibir pantai.

  "Hasil tangkapan ikan paling cuma satu ember kecil. Ikan yang ditangkap juga ikan yang harganya murah, sehingga kalau dihitung-hitung biaya operasional lebih besar dibandingkan hasil tangkapan. Apalagi kalau perahu yang dipakai adalah pinjaman," ujarnya.

  Mazhuriadi mengatakan, pihaknya sudah berupaya membantu para nelayan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui program pemerataan, yakni memberikan bantuan perahu dan peralatan tangkap bagi nelayan yang belum memilii peralatan tangkap itu    

Namun belum semua nelayan mendapatkan bantuan karena dana alokasi khusus dari Kementerian Kelautan dan Perikanan relatif terbatas.

  Bantuan lainnya adalah dalam bentuk program pemberdayaan masyarakat kawasan pesisir, seperti budidaya ikan menggunakan keramba jaring apung dan budi daya rumput laut.

  Program tersebut sudah berjalan dua tahun dan dinilai cukup efektif untuk dijadikan sebagai pekerjaan alternatif bagi nelayan ketika musim cuaca buruk di perairan laut.

  "Program budidaya ikan sistem keramba jaring apung akan dikembangkan lagi pada 2013, namun dengan sistem berbeda, yakni menggunakan keramba dari bambu agar mudah diikuti oleh nelayan lainnya. Kalau sebelumnya menggunakan jaring khusus," ujarnya.  

  Ia mengatakan, pihaknya juga berencana melakukan program modernisasi nelayan, namun upaya itu terkendala dari sisi sumber daya manusia (SDM) nelayan yang belum siap.

  Para nelayan yang selama ini menggunakan perahu kecil dan mesin tempel rencananya akan diberikan bantuan perahu berukuran besar dan mesin yang lebih besar sehingga bisa menjangkau perairan bebas untuk mencari ikan berukuran relatif besar.

  "Program modernisasi tersebut seharusnya sudah berjalan sejak 2011, namun karena kesiapan SDM nelayan yang belum siap, program itu belum bisa terlaksana," ujarnya.

(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026