Mataram, 19/2 (Antara) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memprogramkan pembangunan gedung perpustakaan induk di Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, dan Kota Bima.

  "Konsepnya sudah ada, butuh anggaran sekitar Rp10 miliar untuk masing-masing satu gedung perpustakaan induk di Sumbawa Besar dan di Kota Bima," kata Kepala Badan Perpustakan dan Arsip Provinsi NTB H Arsyad Abdul Gani, di Mataram, Selasa.

  Ia mengatakan, program pembangunan gedung perpustaan induk itu merupakan tindaklanjut dari aspirasi masyarakat di Pulau Sumbawa, yang menyebar di lima kabupaten/kota yakni Kabupaten Sumbawa, Sumbawa Besar, Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima.

  Di Pulau Lombok, sudah ada gedung perpustakaan induk yang terletak di Jalan Majapahit Kota Mataram. Juga ada perpustakaan di Narmada, Kabupaten Lombok Barat dan taman bacaan di Jalan Udayana. 

  "Kini, giliran di Pulau Sumbawa. Diupayakan paling telat awal 2014 sudah ada proyek fisik pembangunan gedung perpustakaan induk di dua lokasi di Pulau Sumbawa itu," ujarnya.

  Arsyad mengaku, sedang memperjuangkan anggaran pembangunan gedung perpustakaan yang bersumber dari APBN pada pos anggaran Perpustakaan Nasional, dan APBD Provinsi NTB.

  Dokumen pengajuan dana APBN sudah direstui Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan akan segera diserahkan ke Perpustakaan Nasional.

  "Kalau ada sinyal bisa dapat dana APBN, maka pengalokasian melalui APBD dialihkan untuk kegiatan lainnnya. Jadi, perjuangan anggarannya dari dua sumber," ujarnya.

  Arsyad juga mengungkapkan bahwa pihaknya tetap melanjutkan program buku masuk desa yang diterapkan sejak 2008. 

  Program itu bertujuan memacu masyarakat desa untuk membaca atau mengenali buku bacaan bagi komunitas buta aksara.

  Pada 2009 diprogramkan arsip masuk desa, agar masyarakat desa pun mengetahui bentuk dan jenis arsip pemerintah.

  Tahun berikutnya, diterapkan program kolaborasi perpustakaan dengan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di sejumlah kecamatan di wilayah NTB. 

  Puskesmas dimaksud dilengkapi perpustakaan agar pasien atau sanak keluarga pasien yang berkunjung ke institusi medis itu dapat mengisi waktu luang untuk membaca.

  Awalnya, dicoba pada 10 puskesmas yang kemudian diperluas ke puskemas lainnya hingga mencapai ratusan puskesmas.

  Selanjutnya, program perpustakaan desa atau penempatan buku bacaan di berbagai desa yang kini telah mencakup 952 desa dari total 1.116 desa/kelurahan yang menyebar di 10 kabupaten/kota.

  Setiap desa diberikan sebanyak 1.000 eksemplar buku bacaan, ditambah dua rak buku.

  Pada 2012, dilakukan kolaborasi dengan masjid, sehingga buku-buku yang ada di kantor desa akan dipindahkan ke masjid.

  Tahap awal setiap masjid diberikan 200 eksemplar buku bacaan, yang akan menyasar sebanyak 520 masjid dari total 4.762 unit masjid di wilayah NTB.

   "Tahun ini, ada dukungan anggaran APBD sebesar Rp500 juta untuk pengadaan buku perpustakaan desa. Sasarannya, buka desa baru tetapi desa lama atau yang sudah tersentuh program, namun dilanjutkan karena komitmennya semakin mantap," ujar Arsyad. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026