Mataram, 26/2 (ANTARA) - Perusahaan mitra petani tembakau virginia di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) memasok cangkang sawit untuk kebutuhan pemanasan (omprongan) tembakau virginia, dari Kalimantan Timur.

  "Cangkang sawit sudah jadi bahan bakar alternatif untuk petani tembakau virginia di Pulau Lombok, dan untuk memenuhi kebutuhannya perusahaan mitra pasok dari Kalimantan Timur," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi NTB HJ Hartina, di Mataram, Selasa.

  Ia mengatakan, petani tembakau virginia di Pulau Lombok menggunakan tungku omprongan tembakau multi bahan bakar, sehingga selain bahan bakar batubara, minyak tanah, juga cangkang sawit dan cangkang kemiri.

  Belakangan ini, cangkang sawit makin diminati petani tembakau virginia itu sementara NTB bukan kawasan pengembangan sawit, sehingga dipasok dari Kalimantan Timur.

  Perusahaan mitra petani tembakau virginia yang membantu pasokan cangkang sawit itu, selain usaha petani sendiri melalui jaringan bisnisnya.

  "Untuk memperlancar pasokan cangkang sawit itu, kami akan menemui dinas teknis terkait di Kalimantan Timur untuk menjalin kerja sama. Mungkin awal Maret nanti, tim teknis Pemprov NTB akan ke sana (Kalimantan Timur)," ujarnya.

  Hartina optimistis jalinan kerja sama pengadaan cangkang sawit dengan Pemprov Kalimantan Timur itu, dapat direalisasi sesuai harapan, mengingat NTB dan Kalimantan Timur sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama pengembangan Sumber Daya Alam (SDA) bidang tenaga kerja, pertanian, pariwisata dan perdagangan.

  MoU itu ditandatangani Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Gubernur Kalimantan Timur H Awang Faroek Ishak, di Samarinda, 21 April 2012.

  Jalinan kerja sama pengembangan SDA antarprovinsi itu, dipandang penting karena kedua provinsi dapat saling berbagi pengalaman dan pengetahuan pengembangan sumber daya bidang tenaga kerja, pertanian dalam arti luas, pariwisata dan perdagangan.

  Jalinan kerja sama itu diawali dengan program rintisan penempatan tenaga kerja Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) di Kalimantan Timur yang mulai direalisasi menjelang akhir 2012.

  Pascapenandatanganan MoU itu, sebanyak 420 orang tenaga kerja dari Pulau Lombok dan Sumbawa, NTB, dikirim ke Provinsi Kalimantan Timur, guna bekerja di perkebunan kelapa sawit.

  "Sudah ada MoU NTB dan Kalimantan Timur, sehingga tinggal dimantapkan saja kerja sama pengadaan cangkang sawit itu," ujar Hartina.

  Versi Dinas Perkebunan NTB, jumlah tungku omprongan tembakau virginia di Pulau Lombok, diperkirakan lebih dari 15 ribu unit.

  Namun baru sebanyak 8.983 unit tungku oven tembakau virginia itu yang sudah dikonversi ke tungku batubara, sehingga hampir sebagian masih menggunakan bahan bakar minyak tanah, kayu bakar dan cangkang sawit dan kemiri.

  Sekitar 8.000-an petani tembakau virginia di Pulau Lombok masih bisa memproduksi tembakau kering lebih dari 30 ribu ton setiap tahun.

  Tembakau itu dihasilkan dari sekitar 58 ribu hektare lahan, yang melibatkan sebanyak 124.313 orang tenaga kerja, termasuk sekitar 35 ribu tenaga kerja wanita.

   Ribuan petani tembakau itu dibina oleh 20 unit perusahaan mitra yang beroperasi di Pulau Lombok, yakni PT Gudang Garam, PT Export Leaf Indonesia (ELI), PT Djarum, dan PT Shadana Arifnusa atau perusahaan milik Sampoerna Group selaku perusahaan mitra petani tembakau di Pulau Lombok yang terbesar.

  Selanjutnya, PT Tresno Adi, PT IDS, UD Nyoto Permadi, UD Supianto, CV SML, UD Cakrawala, UD Keluarga Sakti, UD Iswanto, UD Sumber Rezeki, UD Jawara, CV Kemuning Sari, CV Stevi, PR Sukun, UD Selaparang, UD Rinjani Maju Bersama, dan PT AOI. (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026