Beberapa waktu lalu kami tidak mampu melayani permintaan paving block senilai Rp2,5 miliar, karena kapasitas produksi relatif terbatas. Untuk itu kita perlu menambah mesin `press` hidrolik agar bisa meningkatkan produksi"
Mataram, (Antara Mataram) - PT Gerbang NTB Emas hingga kini belum mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat terutama untuk produk "paving block" karena masih kurangnya alat produksi terutama mesin "press" hidrolik.

Komisaris Utama PT GNE H Lalu Mudjitahid di sela acara Rapat Umum Pemegang Samah (RUPS) PT GBE di Mataram, Rabu, mengatakan pihaknya belum mampu memenuhi permintaan pasar karena terbatasnya produksi.

PT GNE adalah badan usaha milik daerah (BUMD) yang dimiliki Pemerintah Provinsi NTB, bergerak di bidang agrobisnis, industri jasa bangunan dan perbengkelan.

"Beberapa waktu lalu kami tidak mampu melayani permintaan paving block senilai Rp2,5 miliar, karena kapasitas produksi relatif terbatas. Untuk itu kita perlu menambah mesin `press` hidrolik agar bisa meningkatkan produksi," ujarnya.

Untuk itu, katanya, pihaknya akan menambah peralatan produksi dengan memanfaatkan tambahan modal dari Pemerintah Provinsi NTB selaku pemegang sama mayoritas.

Mudjitahid mengaku masih mengalami kesulitan untuk mengakses modal dari perbankan, karena aset berupa lahan yang luasnya mencapai 1,5 hektare belum bisa dijadikan agunan kredit di bank, karena sertifikatnya masih atas nama PT Wisaya Yasa.

"Kami belum bisa menggunakan sertifikat tanah yang merupakan aset PT GNE tersebut sebagai agunan kredit di bank, karena hingga kini belum bisa dialihkan ke PT GNE, mengingat biayanya cukup besar, mencapai miliaran rupiah," katanya.

Karena itu, katanya, untuk sementara harus meminta tambahan modal dari Pemprov NTB. Jumlah modal dari Pemprov NTB hingga kini sebanyak Rp5 miliar, ada tambahan Rp2 miliar yang sebelumnya sebanyak Rp3 miliar.

Produk industri jasa bangunan tersebut merupakan salah satu usaha unggulan PT GNE dan mampu meningkatkan pendapatan perusahaan daerah itu, bahkan kini memberikan laba cukup besar mencapai Rp450 juta dari sebelumnya hanya Rp10 juta.(*).

Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2026