Gelombang tinggi sudah terjadi selama hampir tiga minggu. Kami terpaksa mencari pekerjaan lain seperti menjadi tukang ojek dan menjadi buruh harian di pasar
Sumbawa Besar,  (Antara)- Sejumlah nelayan di kawasan pesisir pantai Labuhan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tidak berani melaut akibat gelombang tinggi yang terus terjadi sejak beberapa minggu belakangan ini.

Beberapa nelayan terpaksa menambatkan perahu-perahunya ke daratan untuk menghindari terbawa ombak ataupun rusak terhempas gelombang.

Salah seorang penduduk Labuhan Sumbawa Pandi, ketika ditemui Rabu siang, menyatakan, seluruh nelayan di pesisir pantai Labuhan Sumbawa tidak berani melaut akibat gelombang tinggi.

Menurutnya, kondisi ini telah berlangsung hampir tiga minggu. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan para nelayan terpaksa beralih profesi untuk menghidupi keluarganya.

"Gelombang tinggi sudah terjadi selama hampir tiga minggu. Kami terpaksa mencari pekerjaan lain seperti menjadi tukang ojek dan menjadi buruh harian di pasar," ujar Pandi.

Selain menghadapi gelombang tinggi, sejumlah nelayan pun risau menghadapi angin kencang di kawasan tersebut, yang mengakibatkan beberapa rumah penduduk mengalami kerusakan di bagian atapnya.

Menghadapi kondisi ini, Pandi mengharapkan bantuan pemerintah untuk memperbaiki pemukiman penduduk yang rusak diterjang angin.

Pandi belum bisa memastikan kapan cuaca dan gelombang tinggi akan berakhir, sementara di sisi lain, sebagian masyarakat pesisir terpaksa menganggur lantaran tidak bisa mencari pekerjaan lain.

Menilik pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ujarnya, gelombang tinggi yang terjadi baru pada tahap permulaan. "Biasanya Rob disertai gelombang yang cukup tinggi serta angin kencang akan terjadi hingga awal bulan Februari," ujarnya.

Dia mengkhawatirkan kondisi ini dapat berakibat fatal, misalnya, menenggelamkan beberapa rumah di sekitar Labuhan Sumbawa seperti di Dusun Kali Baru, Pasir serta Kampung Padak.

"Tinggi air laut yang tumpah ke darat bisa mencapai 2 meter, hingga mengancam pemukiman yang berdekatan di daerah hulu sungai dan pantai," katanya.


Pewarta :
Editor: Dina
COPYRIGHT © ANTARA 2026