Hannover Messe 2023 ajang promosikan sawit berkelanjutan

id gapki. sawit, industri sawit, hambatan perdagangan sawit, sawit eropa, hannover messe, hannover messe 2023, kementerian

Hannover Messe 2023 ajang promosikan sawit berkelanjutan

Kompartemen Hubungan Luar Negeri Gapki Lolita Bangun dalam Dialog FMB9 bertajuk "Industri Masa Depan Berwawasan Lingkungan HannoverĀ MesseĀ 2023" yang dipantau di Jakarta, Senin (27/3/2023). (ANTARA/Youtube FMB9ID_ IKP)

Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) bersama sejumlah asosiasi sawit lainnya akan turut hadir dalam ajang pameran teknologi industri Hannover Messe 2023 guna mempromosikan praktik industri kelapa sawit berkelanjutan yang telah diterapkan Indonesia.

Kompartemen Hubungan Luar Negeri Gapki Lolita Bangun dalam Dialog FMB9 bertajuk "Industri Masa Depan Berwawasan Lingkungan Hannover Messe 2023" yang dipantau di Jakarta, Senin, mengatakan sebagai penyumbang terbesar devisa negara sekaligus penyerap 16 juta tenaga kerja, industri tersebut masih menghadapi hambatan perdagangan dari Eropa baik secara teknis maupun nonteknis.

"Secara technical itu ada REDD 1, 2, 3, kemudian regulasi deforestation. Dan secara nontechnical juga ada kebijakan subsidi atau dumping yang mereka tuduhkan kita tidak fair dalam harga. Pemerintah kita juga ada cara dengan meng-counter secara litigasi, nah kita mungkin dilakukan secara counter promosi melalui pameran ini," ungkapnya.

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan Hannover Messe, Jerman juga merupakan negara terbesar di Uni Eropa yang dinilai krusial untuk mendapatkan promosi soal praktik industri sawit berkelanjutan.

Lolita berharap, melalui ajang Hannover Messe, pelaku industri sawit akan bisa lebih dekat dengan pasar Eropa dan mendapatkan masukan secara langsung soal produk sawit yang banyak ditolak. "Ini akan kita lanjutkan dari Hannover Messe yang dulu di 2021, 2023 dan seterusnya continuous itu akan membentuk mindset yang baru, karena selama ini mindset yang sudah tercipta itu seperti negatif," katanya.

Lolita menjelaskan selain promosi, industri sawit juga akan menunjukkan segala upaya yang dilakukan khususnya terkait praktik sesuai standar internasional hingga pemanfaatan limbah dalam mendukung energi bersih.

Di sisi lain, industri juga berharap bisa menarik minat investor Jerman untuk melakukan riset dari hulu hingga ke hilir di industri sawit dan turunannya. "Jadi kami mengundang kerja sama riset teknologi dari hulu sampai hilir, apa yang bisa diinvestasikan, jadi juga menambahkan penyerapan tenaga kerja lagi dari hulu sampai hilir," katanya.

Baca juga: Industri pariwisata Bali komitmen pakai produk minyak sawit
Baca juga: Kejagung hormati putusan hakim terhadap pidana korupsi terhadap Surya Darmadi


Lolita menjelaskan di pameran tersebut, Gapki akan memamerkan teknologi metan capture, di mana POME atau limbah pabrik kelapa sawit yang menghasilkan CPO, ditangkap metannya untuk diubah menjadi biogas. "Ini hal yang menunjukkan kita menggunakan energi terbarukan. Jadi makin comply dengan SDGs, tidak semena-mena, no deforestation dan mengurangi emisi karbon," katanya.

Selain Gapki, ada Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) yang akan menunjukkan kelapa sawit yang tidak tergantikan bisa diolah dengan cara berkelanjutan. Ada pula Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) yang akan menunjukkan Indonesia sebagai satu-satunya negara yang telah mencapai B35 di dunia. Selanjutnya, ada Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) yang akan menunjukkan skema ekonomi sirkular dengan memanfaatkan tandan kosong sebagai biofertilizer.