Pakar: Gempa magnitudo di atas 7 bisa sebabkan tsunami

id Gempa Mentawai,gempa Mentawai sumbar,pakar gempa Unand Bardrul Mustafa,gempa magnitudo tsunami,tsunami

Pakar: Gempa magnitudo di atas 7 bisa sebabkan tsunami

Gerbang Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat (Sumbar). (ANTARA/Muhammad Zulfikar).

Padang (ANTARA) - Pakar gempa dari Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat (Sumbar) Dr Badrul Mustafa mengatakan pada umumnya gempa bumi dengan kekuatan di atas tujuh magnitudo menyebabkan tsunami.

"Kalau gempanya di atas magnitudo tujuh maka berpotensi terjadi tsunami. Sebab, dari banyak peristiwa tsunami yang terjadi umumnya kekuatan gempanya tujuh ke atas," kata pakar gempa dari Unand Dr Badrul Mustafa di Padang, Selasa.

Baca juga: Gempa terkini magnitudo 7,3 guncang Mentawai Sumbar, berpotensi tsunami
Baca juga: Begini suasana gempa M 7.3 di Padang Sumbar: terasa 30 detik dan warga panik


Hal tersebut disampaikan Badrul menanggapi gempa tektonik 6,9 magnitudo yang berpusat di Kabupaten Kepulauan Mentawai pada pukul 03.00 WIB Selasa dini hari.

Badrul mengatakan beruntung gempa yang terjadi pada segmen Siberut tersebut tidak menimbulkan gelombang tsunami, meskipun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan terjadi kenaikan air laut sekitar 11 sentimeter usai gempa terjadi.

Apalagi, gempa tektonik tersebut tergolong dangkal yakni pada kedalaman 23 kilometer, dan berada pada zona Megathrust Mentawai. Apabila kekuatan gempa di atas tujuh magnitudo maka berpotensi besar terjadi gelombang tsunami yang lebih besar.

Pada awalnya BMKG melaporkan gempa dengan episentrum 0.93 Lintang Selatan dan 98.93 Bujur Timur itu memiliki kekuatan 7,3 magnitudo. Namun, setelah diperbaharui secara akurat kekuatan gempa 6,9 magnitudo.

"Biasanya kalau terjadi tsunami (di bawah magnitudo tujuh) biasanya kecil, dan itu betul seperti yang dilaporkan BMKG," ucap lulusan Universite Pierre et Marie Curie Paris itu.

Akademisi Unand tersebut mengatakan dari laporan yang diterima, banyak masyarakat di berbagai kabupaten dan kota di Sumbar panik saat terjadi gempa. Padahal, seharusnya warga diminta tetap tenang dan siaga saat terjadi bencana alam.

"Bagi orang yang sudah memahami fenomena ini biasanya tidak panik tapi waspada," ujar lulusan Geofisika Dan Meteorologi Institut Teknologi Bandung itu.

Oleh karena itu, semua pihak terutama pemangku kepentingan terkait harus terus menerus mengedukasi masyarakat terkait mitigasi yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi.

"Sebab, banyak kejadian gempa tidak begitu membahayakan namun risiko yang muncul sangat fatal akibat kepanikan tadi," jelas dia.