Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Indo-Australia menjadi pemicu gempa bumi menengah berkekuatan 4,6 magnitudo di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan mengatakan gempa bumi darat yang mengguncang Kabupaten Bima tersebut terjadi pada 29 Januari 2026 pukul 02.30 WITA.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar turun atau normal fault," kata Kepala Stasiun Geofisika Mataram BMKG NTB Sumawan dalam laporan yang diterima di Mataram, Kamis.
Sumawan menjelaskan gempa bumi yang terjadi dini hari tadi pukul 02.30 WITA berpusat di daratan yang berjarak 45 kilometer ke arah tenggara Kabupaten Bima dengan kedalaman 128 kilometer.
Menurutnya, sejam usai gempa terpantau tidak ada gempa bumi susulan atau after shock yang terjadi di wilayah tersebut.
BMKG mencatat bahwa masyarakat di Kabupaten Bima dan Kota Bima merasakan guncangan skala III MMI (Modified Mercalli Intensity) berupa getaran di dalam rumah seperti truk yang sedang melintas.
Sedangkan, masyarakat di Kabupaten Sumbawa merasakan guncangan gempa berskala II hingga III MMI.
Baca juga: Pergerakan lempeng Indo-Australia memicu gempa di Lombok Tengah
Baca juga: Gempa bumi di Lombok Tengah terasa hingga Bali
"Hasil pemodelan tsunami dengan sumber gempa tektonik menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami," papar Sumawan.
BMKG mengimbau masyarakat agar selalu tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026