Mataram, 13/5 (ANTARA) - Hasil riset para dosen di Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB), jarang diekspos  jurnal ilmiah internasional karena penelitinya enggan mempresentasikan di tingkat internasional.
   Rektor Unram, Mansur Ma'shum, di Mataram, Rabu, mengatakan peneliti Unram kurang percaya diri untuk mempublikasikan hasil risetnya itu di dunia internasional.
   "Yang tampil di dunia internasional itu hanya mereka yang percaya diri dan tahu jalannya serta lika-likunya sehingga bisa mempublikasikan hasil risetnya," ujarnya.
   Ma'shum menduga pada umumnya peneliti Unram hanya mau mempublikasikan hasilnya risetnya di tingkat nasional sehingga hanya sebagian kecil yang diekspos jurnal ilmiah internasional.
   Ia mengatakan, para dosen Unram sudah menghasilkan lebih dari 120 riset pada 2008, namun hanya tiga persen dari total hasil riset itu yang diekspos jurnal imiah iternasional.
   Padahal untuk menghasilkan ratusan riset  membutuhkan anggaran puluhan miliar rupiah dari berbagai sumber termasuk dana pemerintah.
   Umumnya hasil riset itu berkaitan dengan bidang kesehatan, pertanian dan peternakan serta matematika dan ilmu pengetahuan dalam serta kedokteran sesuai potensi daerah.
   "Hasil riset yang dipublikasikan di dunia internasional baru di bidang MIPA dan kedokteran karena para penelitinya senior," ujarnya.
   Ia berharap di masa mendatang hasil riset para dosen Unram yang didukung dana puluhan miliar itu makin banyak dipublikasikan di tingkat nasional maupun internasional agar dapat menaikkan akreditasi lembaga pendidikan Unram ke level yang lebih tinggi.
   Ma'shum mengatakan, dukungan anggaran riset untuk peneliti Unram pada 2009 berkisar Rp60 miliar smapai Rp70 miliar.
   Sejauh ini Unram masih diklasifikasikan sebagai lembaga pendidikan tinggi negeri dengan tingkat akreditasi C yang merujuk kepada sejumlah indikator, salah satunya adalah jumlah hasil riset yang diakui nasional dan internasional.
   "Untuk meraih level akreditasi B atau bahkan A tentunya hasil riset yang diakui nasional maupun internasional harus terus bertambah, selain indikator lainnya seperti data administrasi kemahasiswaan yang juga harus dipenuhi," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026