"Kami membuka sekolah ini karena banyaknya permintaan wisatawan asing yang ingin belajar `surfing"
Lombok Utara (Antara NTB) - Pengelola Sekolah Selancar Gili Surf School (GSC) Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, meminta perhatian pemerintah dalam rangka melahirkan atlet hebat yang bisa bersaing dengan daerah lain.

Kepala Sekolah GSC Gili Trawangan Salahuding di Lombok Utara, Selasa, menyebutkan sekolah yang dikelolanya berdiri secara alami dan satu-satunya lokasi "surfing" di objek wisata Pantai Gili Trawangan.

"Awalnya, kami membuka GSC ini karena banyaknya permintaan wisatawan asing yang ingin belajar `surfing` di pulau ini," katanya.

Surfer senior kelahiran Gili Trawangan ini juga mengelola "Surf Bar" yang merupakan rumah terakhir bagi anggota Karang Taruna Desa Gili Trawangan.

"Di sini (Surf Bar), adalah tempat berkumpulnya peselancar muda Gili Trawangan. Tempat ini kami kelola bersama pengurus Karang Taruna," ujarnya.

Dalam mengelola sekolah selancar, Salahuding mengaku tidak mengenal istilah manajemen atau kurikulum. Pokoknya, yang tertarik selancar bisa mendaftar kapan saja dan langsung praktik dengan pemandu para "surfer" handal.

"Saat ini saja, ada belasan peselancar muda yang selalu berkumpul di tempatnya. Sebagian di antaranya bekerja sebagai pegawai di restoran yang juga merupakan rumah "full moon party," ucapnya.

Sani, salah satu peselancar terbaik Gili Trawangan mengaku dirinya bisa berselancar setelah bergabung di "Surf Bar".

"Banyak sekali tamu asing maupun lokal yang bisa surfing di tempat ini," kata Sani, yang baru saja pulang dari Jepang mengunjungi kekasihnya yang juga seorang peselancar.

Untuk bisa selancar, kata dia, dibutuhkan daya tahan tubuh terhadap sinar matahari dan sedikit kesabaran karena olah raga yang satu ini harus ditekuni selama beberapa minggu sebelum bisa menikmati sensasi menantang ombak.

"Saat kita surfing, kita lupa segalanya. Yang ada di kepala hanya bagaimana kita bisa bertahan dan bermain selama mungkin dengan ombak," ujar anak pantai berusia 23 tahun ini.

Yang tidak kalah menariknya, kata Sani, olah raga selancar bisa menjadi sarana memperbanyak kawan dari berbagai negara, di samping untuk mempromosikan daerah sebagai objek wisata andalan. (*)


Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2026