Mataram, 26/5 (ANTARA) - Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr  Helius Sjamsuddin MA mengatakan, mesin pariwisata harus digerakkan maksimal, baik di Lombok maupun Sumbawa, sehingga semua potensi wisata di daerah ini dapat dipasarkan.

   "Semboyan pariwisata, kalau melihat Bali tidak bisa melihat Lombok, tetapi kalau melihat Lombok pasti bisa melihat Bali,  perlu ditambahkan, kalau melihat Sumbawa pasti bisa melihat Bali dan Lombok, bahkan bisa melihat Komodo dan Rinca (NTT)," katanya di Mataram, Selasa.

  Dalam dialog peningkatan pranata sosial untuk memahami dinamika masyarakat Indonesia, ia mengatakan potensi pariwisata yang ada di Sumbawa, seperti juga di Lombok,  harus digali secara optimal sehingga ada asas pemerataan dalam pembangunan.

   "NTB selama ini memberikan contoh yang  baik, gubernur dan wakil gubernur masing-masing beasal dari dua pulau besar, Lombok dan Sumbawa," katanya.

   Menurut dia, selama ini  ada kecenderungan pariwisata di Pulau Sumbawa jauh ketinggalan dari Lombok, misalnya fasilitas pendukung pariwisata.

  "Akibatnya arus kunjungan ke Sumbawa relatif sedikit dibandingkan ke Lombok yang pariwisatanya lebih maju dengan  fasilitas pendukung lebih lengkap," katanya.

   Ia mengatakan, Gunung Rinjani di Lombok dan Gunung  Tambora di Sumbawa sebagai "Pasific ring of fire" tetap memukau meski disadari kedua gunung berapi ini masih aktif dan menyimpan potensi malapetaka bagi penduduk dan alam sekitarnya.

   "Namun pesonanya masih tetap mengundang kekaguman para wisatawan mancanegara dan nusantara.  Gunung Tambora, misalnya, letusan pada 1815 merupakan letusan terbesar dalam sejarah dunia," katanya.

   Ia mengatakan, pada 2015 nantui letusan Tambora akan genap 200 tahun, ini peluang untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan kegiatan 200 tahun letusan Tambora.

   "Selain para wisatawan,  pakar geologi dan vulkanologi dunia dapat diundang, dan ini peluang bagi NTB menjadi tuan rumah seminar ilmiah internasional," kata Helius yang merupakan putra asli Bima, NTB. (*) 

 





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026