Mataram, 16/6 (ANTARA) - Ade Apriliansa (19), siswa kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTS) Negeri Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaporkan hilang sejak Sabtu (13/6) lalu.

   Ayah kandungnya, Mashabuddin (45), kepada wartawan di Bandara Selaparang Mataram, Selasa, mengatakan, sebelum menghilang putra semata wayangnya itu sempat bermalam di kediamannya bersama dua teman sekolahnya.

   "Saat bangun pagi, dia tidak ada lagi dan sepeda motor temannya yang diparkir di garasi juga hilang, padahal anak saya juga punya sepeda motor," katanya.

   Sejak saat itu, Mashabuddin terus mencari putranya itu di berbagai lokasi namun belum juga menemukannya, hingga kasus orang hilang itu dilaporkan kepada aparat kepolisian di Kabupaten Sumbawa, Senin (15/6).  

Warga RT 04, RW 04 Kelurahan Brang Bara, Kecamatan Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa itu, mengaku semakin panik ketika tidak seorang pun teman sekolah anaknya atau teman bermain di lingkungan tempat tinggalnya mengetahui keberadaan putranya itu.

   Apalagi, ibu kandungnya, Majnah (43), terus menangisi kehilangan anaknya yang menderita gangguan jiwa itu.

   Mashabuddin kemudian memperbanyak foto putranya itu untuk disebar di sejumlah lokasi agar mendapat petunjuk keberadaaan putranya.

   "Ini fotonya, saya sudah cari kemana-mana tetapi belum juga tahu dimana keberadaannya," katanya sambil menunjukkan foto anaknya berukuran 5R kepada wartawan.

   Ia pun mengaku berupaya mencari anaknya itu di Bandara Selaparang Mataram dengan harapan ada yang melihat keberadaan anaknya dan melaporkannya.

   Menurut Mashabuddin, putra semata wayangnya itu sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mataram sebanyak dua kali hingga dinyatakan sembuh dan diperbolehkan bersekolah.

   Sejak bersekolah di MTS Negeri Sumbawa, baru sekali menunjukkan gejal-gejala gangguan jiwa.

   "Saya pikir anak saya sudah sembuh dari gangguan jiwa, malah dia hilang tanpa jejak," ujar warga Sumbawa yang sehari-harinya bekerja di bengkel sepeda motor itu.(*)

 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026