pendidikan karakter cegah tindak kekerasan

id wali kota mataram ,pendidikan karakter,degah kekerasan,dunia pendidikan

Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang (Foto Antaranews NTB/Nirkomala)

Jika pendidikan karakter melalui pendidikan keagamaan dan kebudayaan sudah kuat, tentu tidak akan ada yang mempertontonkan cara-cara kekerasan seperti orang tidak berpendidikan
 Mataram (Antaranews NTB) - Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan dalam dunia pendidikan diperlukan upaya memperkuat pendidikan karakter bagi para pelajar.

"Jika pendidikan karakter melalui pendidikan keagamaan dan kebudayaan sudah kuat, tentu tidak akan ada yang mempertontonkan cara-cara kekerasan seperti orang tidak berpendidikan," kata Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang di Mataram, Jumat.

Hal itu dikemukakannya setelah melihat kondisi dunia pendidikan pada beberapa daerah, dimana ada kasus murid memukul gurunya dan di daerah lain ada juga wali murid yang melakukan hal serupa.

Dikatakan, subtansi pendindikan karakter bagaimana menjadikan pusat-pusat pendidikan bisa membangun pelajar menjadi bagian masa kini dan masa depannya.

Dengan membangun karakter, maka akan tercipta semangat, motivasi dari anak-anak untuk menjadi makin bangga dengan keberadaan dirinya.

Genarasi muda yang cerdas dalah generasi muda yang memiliki jangkauan pemikiran yang panjang dan mereka tidak mudah untuk terprovokasi dan tersulut emosinya.

"Orang yang terbangun karakternya adalah orang yang memiliki bekal yang kuat untuk berada pada interaksi-interaksi sosial yang positif," katanya.

Ia mengakui, proses untuk menciptakan pendidikan karakter memang tidak mudah tetapi harus tetap menjadi ikhtiar yang diinternaliasikan dalam konsep membangun pendidikan di seluruh strata pendidikan.

"Saya percaya dengan pendidikan karakter ini, karena saya tahu betul nenek moyang kita tentu telah mengajarkan kita tentang bagaimana berperilaku terhadap guru, orang tua dan lingkungan sosial dan itu harus berawal dari lingkungan keluarga dan institusi pendidikan," katanya.

Sementara menyinggung tentang harus adanya surat pernyataan orang tua yang menyebutkan selama di sekolah, anak-anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak sekolah, Martawang menilai hal itu tidak semestinya harus ada.

"Mari kita bangun kesepahaman bersama bahwa institusi pendidikan itu adalah institusi tempat mendidik generasi muda untuk menyongsong hari depan lebih baik. Kalau kita mau memberikan masukan sudah ada pintunya dan terbuka lebar tanpa kekerasan," katanya.( *)

Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar