Dompu (ANTARA) - Sejumlah wali murid di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, memprotes menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa SDN 17 Woja karena dinilai tidak memenuhi standar gizi dan kelayakan harga.

Protes tersebut mencuat setelah sebuah video yang memperlihatkan isi paket makanan viral di media sosial facebook, Selasa. Dalam video itu, seorang wali murid bernama Agus Marsudi menunjukkan menu yang diterima anaknya di sekolah.

"Menu MBG lagi-lagi bermasalah. Semakin lama menunya semakin buruk,” ujar Agus dalam unggahan videonya.

Ia menjelaskan, menu yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Matua, Kecamatan Woja, berisi tiga butir kurma, satu potong kue basah, dan tempe orek.

"Ini menu SPPG Desa Matua Kecamatan Woja, berisi kurma tiga biji, satu kue basah dan tempe orek. Kalau dinilai ini tidak sampai Rp5 ribu, kok semakin buruk ya," katanya.

Agus menyebut anaknya yang bersekolah di SDN 17 Woja tetap menerima menu MBG setiap hari selama bulan Ramadhan. Namun, ia memperkirakan nilai makanan tersebut berada di bawah Rp10 ribu per porsi.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak sebanding dengan anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk program MBG.

"Ini bisa mengundang kemarahan warga dan wali murid. Apalagi ini adalah hak siswa yang tidak terpenuhi," ujarnya.

Baca juga: MBG tak pangkas anggaran infrastruktur pendidikan

Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah orang tua siswa lainnya. Mereka menilai komposisi menu yang hanya terdiri atas kurma, kue bolu kukus atau roti, serta tempe atau sambal kacang, belum mencerminkan prinsip gizi seimbang bagi anak usia sekolah.

"Tidak masuk akal jika menu seperti itu bernilai Rp10 ribu per porsi. Kalau harga pasar paling Rp5 ribu. Kami menduga mutu tidak dijaga," ujar salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Para orang tua mendesak pengelola SPPG membuka informasi secara transparan, mulai dari rincian menu, kandungan gizi hingga harga setiap komponen makanan. Mereka juga meminta Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Dompu, melakukan evaluasi terhadap kinerja satuan pelayanan yang melayani sekolah tersebut.

Baca juga: Buah busuk dan puding basi, Dinkes Mataram siap cabut SLHS SPPG

Berdasarkan informasi yang dihimpun ANTARA, menu yang diterima siswa pada Senin (2/3) hanya berupa kue bolu kukus, kurma, serta tempe atau sambal kacang tanpa sayur maupun sumber karbohidrat utama.

Hingga berita ini diturunkan, penanggung jawab SPPG Desa Matua, Kecamatan Woja, belum memberikan keterangan resmi terkait protes tersebut.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026