Mataram, 6/7 (ANTARA) - Perajin mutiara di Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantu peralatan untuk mengolah mutiara hasil panen.

  Permintaan itu dikemukakan Ketua Pembina Mutu Manikam NTB, Sri Suhadi, saat berdialog dengan Presiden SBY dan Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono, di Pantai Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, NTB, Senin.

  Dialog itu digelar usai penobatan 10 orang Putri Mutiara Indonesia sebagai bagian dari rangkaian acara peluncuran Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012.

  Namun, dialog hanya berlangsung singkat karena keterbatasan waktu Presiden SBY dan Ibu Negara dalam kunjungan kerja sehari di wilayah NTB itu.

  Sri Suhadi yang mewakili perajin, petani dan pengusaha mutiara NTB mengeluhkan ketiadaan peralatan pengolahan mutiara hasil panen.

  "Selama ini kami menggunakan peralatan manual sehingga hasilnya pun tidak maksimal, sehingga kami minta dukungan peralatan semoga Bapak Presiden bisa membantu," ujarnya.

  Sri juga mengungkapkan keinginan para perajin mutiara di wilayah NTB agar diikutsertakan dalam pelatihan Mutu Manikam agar mereka mampu menghasilkan mutiara berkualitas dunia.

  Ia menyebut jumlah perajin mutiara di NTB sudah mencapai 2.000 orang lebih namun belum pernah mendapat pelatihan Mutu Manikam.

  "Mutiara produk NTB cukup terkenal dan jumlahnya cukup banyak, sehingga kami butuh dukungan Presiden dan Ibu," ujarnya.

  Menanggapi permintaan itu, Presiden SBY menyambut baik dan langsung menginstruksikan Menteri Negara Koperasi dan UKM, dan Menteri Perdagangan yang ikut dalam rombongannya, untuk menyikapi hal itu.

  "Ada Menteri Koperasi dan Menteri Perdagangan di sini (dalam rombongan), nanti dirumuskan untuk meningkatkan kualitas, produksinya dan berdaya saing," ujar SBY seraya meminta Ibu Negara untuk menjawab kebutuhan pelatihan perajin mutiara NTB itu.

  Hj Ani Yudhoyono mengatakan, Organisasi Mutu Manikam Indonesia baru terbentuk dua tahun lalu dan sudah sempat menggelar sejumlah pelatihan yang terpusat di Sekretariat Mutu Manikam Indonesia di Bogor.

  Mutu Manikam Indonesia yang dikoordinir Ibu Hassan Wirayuda juga menggelar pelatihan di tahun 2009.

  "Nanti kami koordinasikan aspirasi ini dan perajin Mutu Manikam dari NTB akan diikutsertakan dalam pelatihan berikutnya. Ibu-ibu yang diundang ke Bogor atau kami yang datang ke sini nanti diinformasikan," ujarnya.  
   NTB merupakan daerah potensial pengembangan mutiara dengan daya dukungan wilayah 19.056 hektare yang dapat memproduksi rata-rata sebanyak 1,4 hingga 1,8 ton/tahun.   
   Sekitar 10-30 persen dari total produksi mutiara NTB setiap tahun diantarpulaukan ke Surabaya dan Jakarta untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara oleh 38 orang pengusaha mutiara.

  Hasil penelitian Departemen Kelautan dan Perikanan, mutiara produk NTB diklasifikasikan dalam golongan A (kualitas tinggi), B (sedang) dan C (rendah). Klasifikasi A memiliki nilai jual Rp1 juta/gram, B Rp150 ribu/gram dan klasifikasi C sebesar Rp100/gram.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026