Mataram, 15/7 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) akan menggelar kalender tahunan pariwisata Bulan Citra Budaya (BCB) XIV yang acara pembukaannya dipusatkan di lapangan Muhajirin, Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

   Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB, Lalu Gita Ariadi di Mataram, Rabu, mengatakan, pembukaan BCB yang dijadwalkan dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik akan diisi berbagai atraksi kesenian dan parade budaya yang diikuti sepuluh kabupaten/kota di daerah ini.

   Sebelumnya kegiatan tahunan pariwisata NTB ini menggunakan istilah Bulan Apresiasi Budaya (BAB), namun karena singkatan itu terkait dengan konotasi kurang baik, yaitu "buang air besar",  maka para budayawan sepakat mengganti dengan BCB atau bulan citra budaya.

Ia mengatakan, istilah BAB telah digunakan selama 15 tahun, namun karena memiliki konotasi lain diubah menjadi bulan citra budaya.

   "Saya menawarkan kegiatan apresiasi budaya yang dilaksanakan setiap tahun itu diubah dengan nama BCB atau bulan citra budaya, atau bisa juga bulan pesona budaya (BCB)," katanya.

   Apalagi, kata Gita, istilah apresiasi dalam BAB memiliki makna sempit, karena yang diinginkan dari kegiatan budaya itu adalah bagaimana menciptakan masyarakat yang berbudaya sekaligus mengembangkan seni dan daya tarik wisata.

   Namun untuk mengubah istilah BAB perlu dilakukan pembahasan secara mendalam bersama para seniman dan budayawan agar dipilih istilah yang benar-benar cocok dan membumi.

  "Selain itu istilah tersebut harus dipahami oleh masyarakat di daerah ini,  dan yang tidak kalah pentingnya perubahan istilah itu harus mencerminkan suatu percepatan inovasi nilai tambah.

   Menurut Gita, perubahan nama BAB tersebut tidak akan mengubah ruh dari kegiatan budaya yang digelar selama sebulan, karena itu akan dicari isitilah yang benar-benar tepat dan mencerminkan  berbagai kegiatan terkait dengan budaya tersebut.

   Sementara itu,  Kepala Taman Budaya Mataram, Lalu Agus Fathurahman mengatakan, pada prinsipnya pihaknya setuju dengan wacana mengubah istilah BAB tersebut, namun perubahan nama ini jangan sampai menghilangkan ruh dari kegiatan budaya itu sendiri.

   Ia mengatakan, hingga kini sudah 15 tahun BAB dilaksanakan di NTB, namun belum dilakukan evaluasi sejauh mana keberhasilan  kegiatan tersebut.

  "Apakah telah tercapai tujuan  pelaksanaan apresiasi budaya yang dilakukan selama sebulan terutama untuk menciptakan masyarakat berbudaya, dan sejauh mana dampaknya terhadap peningkatan arus kunjungan wisatawan ke daerah ini," katanya.

   Ia mengatakan, persoalan nama sebenarnya tidak terlalu penting, karena yang lebih penting adalah tujuan dilaksanakan kegiatan tersebut, apakah selama 15 tahun dilaksanakan sudah tercapai, karena itu perlu evaluasi.(*)

 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026