Mataram, 21/7 (ANTARA) - Kedudukan dan fungsi seni budaya yang berkembang di suatu komunitas budaya masyarakat yang merupakan ekspresi akan hidup dan kehidupannya dewasa ini semakin termarginalkan.

   Hal itu dikatakan budayawan nasional Yayah Khisbiyah, ketika menjadi pembicara pada acara seminar budaya dengan tema "Menengok Ulang Multikulturalisme dalam Konteks Indonesia", di Mataram, Selasa.

   Kegiatan seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah budayawan nasional lainnya seperti Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Abdul Moqsith Ghazali dan KH Maman Imanulhaq Faqieh.

   Khisbiyah mengatakan, sebagai ekspresi hidup dan kehidupan masyarakat lokal, seni budaya merupakan media untuk mengungkapkan pandangan hidupnya, mengungkapkan persfektif kebajikan dan kebijakannya serta sumber inspirasi bagi tegaknya kehidupan spritual, moral dan sosial.

   Namun, seni budaya tersebut semakin mengalami marginalisasi karena faktor proses globalisasi yang didominasi budaya barat, hegemoni negara dengan konsep budaya nasional yang mengkooptasi budaya daerah dan hegemoni agama formal yang lebih mengedepankan hukum syariah daripada hukum hakikat.

   "Khusus dari faktor hegemoni agama, dua organisasi Islam yang paling dominan di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, memiliki andil dalam proses marginalisasi seni budaya lokal dilihat dari sudut interpretasi ajaran Islam," ujarnya.

   Ia mengatakan, organisasi Muhammadiyah dipandang sebagai organisasi yang lebih besar andilnya dalam memarginalkan seni budaya lokal karena organisasi tersebut lahir sebagai kritik atas pemahaman Islam yang dipandang sinkretik.

   Sementara itu, NU memiliki nuansa yang berbeda dengan Muhammadiyah dalam menyikapi budaya lokal. NU justru banyak melakukan adopsi seni budaya lokal sebagai media berdakwah.

   "Beberapa upacara ritual dari budaya lokal pun diadopsi dengan mengubah isinya, seperti upacara-upacara yang terkait dengan kelahiran, pernikahan dan kematian," ujarnya.

   Ia mengatakan, dialektika agama dan seni budaya lokal di kalangan NU tumbuh lebih dinamis karena pemikiran NU lebih diwarnai pemikiran sufistik dan mistik dan ini tidak dimiliki oleh Muhammadiyah, yang pemikiran keagamaannya diwarnai oleh wacana purifikasi, tekstual yang dipadu dengan wacana modernitas.

   "Namun, syukurlah sebenarnya, Muhammadiyah telah mulai menggunakan metode filsafat dalam menetapkan keputusannya seperti yang dilakukan pada Munas ke XXIII pada 1995 di Banda Aceh," ujarnya.

   Pada munas tersebut, Muhammadiyah memasukkan pemikiran estetika dalam menganalisis hakekat seni budaya menggunakan pendekatan antropologi dan sosiologi melihat realitas seni budaya dalam masyarakat, di samping tentunya pendekatan syariah atau agama.

   Ia mentatakan, dengan memberikan ruang inkluisivitas yang lebih besar pada kajian agama dalam mengkaji seni budaya nusantara diharapkan kearifan tradisional dan konsep etika sosial agama dapat bersinergi dan membangun komunitas pluralistik yang harmonis dan produktif.

   "Dialog otentik antara pemikiran para ulama, budayawan dan seniman serta para pelaku dakwah dan pendidikan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan seni budaya lokal sebagai khasanah budaya bangsa," katanya.(*)

 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026