Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) melaksanakan kegiatan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial bagi guru di tingkat SD dan SMP dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di daerah setempat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat Agus di Sumbawa Barat, Selasa mengatakan dalam memasuki tahun pelajaran 2025/2026 banyak sekali terjadi perubahan kurikulum dan metode pendekatan pembelajaran.
"Apa yang kami lakukan hari ini adalah penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi di dunia pendidikan pada tahun ajaran 2025/2026," katanya.
Ia mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengintegrasikan ilmu yang didapat ke dalam bentuk pembelajaran di kelas, sehingga akan melahirkan inovasi metode pembelajaran yang berbasis koding.
"Dan selanjutnya meningkatkan mutu pembelajaran di kelas," katanya.
Baca juga: Bupati ajak kades di Sumbawa Barat bersatu atasi kemiskinan
Sementara itu Bupati Sumbawa Barat Amar Nurmansyah menyampaikan posisi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kabupaten Sumbawa Barat sekarang ini berada di angka 97 persen.
"Yang masih kurang di SPM itu bukan dari sisi muridnya. Di sisi infrastruktur ada kurang, tapi kecil yaitu 0,3 persen. Maka nilai yang kurang ada sekitar 2,7 persen. Yang kurang itu peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan," katanya.
Ia mengatakan memang yang paling berat di jaman sekarang ini adalah peningkatan kapasitas tenaga guru dan kependidikan.
Baca juga: Sumbawa Barat siap buktikan diri jadi Kabupaten Sehat Nasional
Jika dilihat dari sebaran usia guru sekarang ini masih banyak di atas angka 40 tahun dibanding dengan angka di bawah 40 tahun. Sementara tuntutan sekarang ini adalah penguasaan teknologi informasi.
"Guru ini adalah pegawai pemerintah yang paling dibuat nyaman, yang paling berada di zona nyaman. Karena berada di zona nyaman maka sulit bagi mereka untuk meningkatkan kapasitas," katanya .
Sementara tuntutan untuk peningkatan kapasitas semakin lebih tinggi, sehingga kualitas pendidikan di Sumbawa Barat bisa ditingkatkan.
"Kami harus adaptif dan terus bertransformasi, bagaimana caranya agar yang sisa 2,7 persen ini bisa menjadi 100 persen," katanya.
Baca juga: Lima kabupaten di NTB masuk status siaga kekeringan
Pemenuhan SPM ini sangat penting, karena berkaitan dengan peningkatan kapasitas maka ia menyangkut dengan peningkatan profesionalisme.
"Saya berharap bapak ibu ini bisa menjadi vioner tetapi tetap bisa adaptif, karena kebijakan ini cepat sekali berubah dan mungkin tahun depan beda lagi," katanya.
"Karena dinamika yang terjadi, terutama perubahan teknologi. Kecerdasan buatan sudah semakin kompleks, dan membutuhkan upaya keras semua pihak," katanya.
Baca juga: Sebanyak 2.314 PPPK Sumbawa Barat terima SK pengangkatan
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026