Mataram (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, segera membentuk desa/kelurahan tangguh bencana (Destana) pada 50 kelurahan se-Kota Mataram untuk menciptakan masyarakat mandiri dan berdaya menghadapi ancaman bencana.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Akhmad Muzaki di Mataram, Senin, mengatakan, pembentukan 50 Destana se-Kota Mataram ditargetkan rampung tahun 2025.

"Dengan berbagai potensi ancaman bencana, pembentukan 50 Destana wajib harus segera dibentuk," katanya.

Data BPBD Kota Mataram menyebutkan, Kota Mataram termasuk dalam 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang rentan terhadap beberapa jenis bencana, yaitu gempa disertai tsunami, banjir, kebakaran pemukiman, konflik sosial, gelombang pantai, dan abrasi.

Bahkan potensi bencana yang baru sebelumnya disebutkan Ahli Seismologi BMKG Pepen Supendi saat menjadi nara sumber dalam kegiatan bimbingan teknis peningkatan efektivitas komunikasi risiko bencana yang dilaksanakan BNPB di Kota Mataram, 26 Agustus 2025, menyebutkan Pulau Lombok, termasuk dalam segmen Sumba yang merupakan bagian dari megathrust selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat, dengan magnitudo gempa bisa mencapai 8,9 Skala Richter.

Baca juga: Antisipasi kemarau, BPBD Mataram pastikan logistik aman

Berdasarkan penjelas itu, lanjutnya, masyarakat perlu tahu potensi megathrust bukan hanya di selatan Pulau Lombok, melainkan semua wilayah selatan Indonesia termasuk Kota Mataram.

"Untuk itu, pemerintah harus gencar melakukan imbauan dan upaya mitigasi bencana untuk menghadapi potensi megathrust tersebut salah satunya melalui pembentukan Destana," katanya.

Di Kota Mataram, katanya, saat ini sudah dibentuk delapan Destana di dua kecamatan yakni Kecamatan Ampenan dan Sekarbela melalui program BPNP, karena dua kecamatan tersebut memiliki wilayah pesisir pantai.

"Sisanya 42 kelurahan yang ada di empat kecamatan, menjadi tugas kami untuk segera membentuk Desatana," katanya.

Baca juga: Warga Mataram diimbau waspadai potensi cuaca ekstrem

Melalui Destana, lanjutnya, masyarakat diberikan informasi, edukasi, dan pembekalan mitigasi bencana seperti bagaimana melakukan pertolongan pada diri sendiri dan orang lain.

"Bahkan BNPB sudah melakukan simulasi risiko bencana pada Kamis (28/8-2025) di Lapangan Malomba Mataram," katanya.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menguji dan mengembangkan kesiapan personel, baik secara manajerial maupun teknis medis dalam menghadapi situasi krisis kesehatan atau bencana.

Kesiapsiagaan itu harus terus dilatih untuk mengoptimalkan upaya cara tanggap darurat, mulai dari tingkat individu, keluarga, hingga komunitas desa dan seterusnya.

"Kesiapsiagaan masyarakat sangat penting agar mampu merespons kondisi darurat dengan cepat dan tepat guna mengurangi risiko," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026