Pupuk Indonesia efisienkan konsumsi gas

id Revitalisasi industri pupuk,Pupuk Indonesia,Konsumsi gas industri pupuk

Pupuk Indonesia efisienkan konsumsi gas

Pekerja berjalan untuk melakukan pengecekan operasional stasiun pengukur gas simpang Y milik PT Pertamina Gas Operation South Sumatera Area (OSSA), Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Jumat (19/9/2025). PT Pertamina Gas OSSA mengoperasikan pipa gas sepanjang 687 km dengan jumlah gas alam yang didistribusikan sebanyak 250 juta standar kaki kubik per hari (gas) yang diperuntukkan untuk kebutuhan industri seperti bahan baku pupuk PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri), gas alam untuk bahan bakar PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju, PLN dan Independent Power Producer (IPP) di Palembang, serta gas untuk keperluan rumah tanggan (city gas) untuk Kota Palembang, dan Ogan Ilir (OI). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Jakarta (ANTARA) - PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya dalam memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani, salah satunya melalui strategi revitalisasi industri pupuk untuk mengefisienkan penggunaan gas.

“Ke depan kami melakukan revitalisasi, karena pabrik-pabrik kami sudah tua. Kami sudah lama tidak melakukan pembangunan pabrik. Untuk merevitalisasi itu butuh Rp54 triliun (tetapi tetap) akan kami lakukan,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Efisiensi tersebut memungkinkan Pupuk Indonesia menekan biaya produksi, sehingga harga pupuk subsidi dan nonsubsidi bagi petani tetap terjangkau.

Di sisi lain, kehadiran pabrik yang modern dan andal juga dapat memperkuat kontinuitas pasokan pupuk jangka panjang, sehingga kebutuhan pupuk petani dapat terpenuhi secara konsisten.

Rahmad mencontohkan, saat ini, dari 15 pabrik urea yang dimiliki Pupuk Indonesia, delapan di antaranya telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Kondisi tersebut membuat rata-rata konsumsi gas untuk memproduksi 1 ton urea mencapai 28 MMBTU, lebih tinggi dibandingkan standar global.

Bahkan, khusus untuk delapan pabrik berusia di atas 30 tahun, konsumsi gas rata-rata bisa mencapai 32,2 MMBTU per ton urea.

“Untuk urea saat ini rasio konsumsi energi kami tinggi sekali, rata-rata rasio konsumsi gas itu adalah 28 MMBTU per ton urea,” kata Rahmad.

Baca juga: Wamentan tekankan peran penting Pupuk Indonesia

Oleh karena itu, revitalisasi industri pupuk menjadi langkah kunci Pupuk Indonesia untuk menjawab tantangan kondisi pabrik yang sudah tua dan tidak efisien tersebut. Melalui revitalisasi, konsumsi gas di Pupuk Indonesia Grup diproyeksikan dapat ditekan menjadi 25 MMBTU per ton urea pada 2035.

Efisiensi ini akan mampu menurunkan biaya produksi, sekaligus memungkinkan Pupuk Indonesia menyediakan pupuk dengan harga lebih terjangkau bagi petani. Sebagai bagian dari langkah revitalisasi ini, Pupuk Indonesia telah memulai pembangunan Pabrik Pusri IIIB melalui PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri).

Baca juga: Indonesia harapkan peningkatan kerja sama pupuk potash

Dengan target penyelesaian pada tahun 2027, Pusri IIIB akan menggantikan pabrik lama sekaligus menghadirkan infrastruktur modern yang mampu meningkatkan efisiensi konsumsi gas dari 32 MMBTU per ton menjadi 21,7 MMBTU per ton urea.

Efisiensi tersebut setara dengan penghematan biaya produksi sekitar Rp1,5 triliun per tahun.

“Keberadaan pabrik ini akan menjadikan Pusri sebagai perusahaan pupuk tertua, tetapi dengan rata-rata umur pabrik yang paling muda dan paling efisien,” kata Rahmad.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pupuk Indonesia efisienkan konsumsi gas lewat revitalisasi industri

Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.