Mataram (ANTARA) - Pakar ekonomi Universitas Mataram (Unram) Muhammad Firmansyah menekankan perlunya optimalisasi sektor non tambang guna menopang laju pertumbuhan ekonomi daerah yang minus akibat ekspor tambang merosot tajam.
"Nusa Tenggara Barat harus berjalan dengan banyak kaki (memaksimalkan potensi) perhiasan, kerajinan, dan pertanian olahan," ujarnya saat dihubungi di Mataram, Kamis.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara tahunan mengalami kontraksi sedalam 0,82 persen pada triwulan II 2025, sehingga menempatkan NTB ke dalam peringkat kedua paling bawah dari 38 provinsi di Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi yang negatif tersebut dipengaruhi oleh sektor pertambangan yang mengalami kontraksi sedalam 29,93 persen. Sektor pertambangan berkontribusi sebesar 15,72 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Nusa Tenggara Barat.
Baca juga: Perekonomian nasional tetap tangguh, NTB dorong agroindustri sebagai katalis pertumbuhan baru
Pada Januari sampai Juli 2025, nilai ekspor kumulatif Nusa Tenggara Barat tercatat minus 79,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024, dari 2,07 miliar dolar AS menjadi hanya 426,07 juta dolar AS. Nilai ekspor merosot tajam itu akibat kebijakan pemerintah pusat yang melarang ekspor konsentrat tambang.
"Sekali kaki itu pincang, seluruh tubuh ikut limbung. Itulah yang kini terlihat dalam data ekspor Januari sampai Agustus 2025," kata Firmansyah.
Lebih lanjut dia menyampaikan nilai ekspor yang merosot itu mengguncang ekonomi makro di Nusa Tenggara Barat yang membuat pajak, devisa, dan aktivitas perekonomian melemah.
Sementara itu, terdapat dampak positif lain. Ekspor periode itu didominasi oleh sektor barang non-tambang, yakni produk turunan tambang oleh smelter berupa katoda tembaga dan emas.
Baca juga: NTB memperkuat ketahanan pangan dan wisata untuk tekan kemiskinan
Firmansyah mengharapkan substitusi tambang mentah dapat dimanfaatkan untuk ekspor industri. Apabila barang tambang surplus, situasi itu dapat dijadikan sebagai bonus, bukan malah mengandalkan kegiatan ekspor sepenuhnya pada sektor tersebut.
"Mungkin inilah momentum Nusa Tenggara Barat dari tambang ke perhiasan. Dari satu kaki ke banyak kaki," papar dosen yang mengajar program studi Ilmu Ekonomi Pembangunan tersebut.
Di sisi lain, Firmansyah juga menyoroti bahwa penurunan angka ekspor bukan akibat dari naik turunnya angka perdagangan jelang tutup buku.
Penurunan ekspor hingga 79,42 persen tersebut merupakan persoalan struktural. Kondisi itu menjadi sinyal kuat bahwa Nusa Tenggara Barat tidak bisa bergantung lagi pada sektor tambang.
Baca juga: Event di Sirkuit Mandalika diperbanyak ciptakan dampak ekonomi