Mataram (ANTARA) - Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram) Firmansyah menyarankan agar pemerintah daerah serius menggarap sektor tradable guna meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Apapun sektor tradable tentu perlu diseriusi, termasuk tambang. Pemerintah perlu dorong segera realisasikan produksi smelter," ujarnya di Mataram, Senin.
Firmansyah memandang industri logam dasar atau smelter yang beroperasi secara penuh bisa mengubah komoditas hasil galian tambang mineral menjadi produk bernilai lebih tinggi, sehingga meningkatkan nilai ekspor dan pendapatan bagi daerah.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan ekonomi NTB secara kumulatif dari triwulan I sampai IV 2025 hanya sebesar 3,22 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya yang bertengger pada posisi 5,30 persen.
Kinerja sektor pertambangan yang mengalami kontraksi sejak Januari hingga Oktober 2025 akibat kebijakan pelarangan ekspor konsentrat tambang telah berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat.
Baca juga: Pengamat sebut Presiden Prabowo bawa harapan baru bagi ekonomi maritim
Menurut Firmansyah, sektor tradable lain di luar tambang adalah industri makanan dan minuman yang terhubung dalam ekosistem rantai pasok mulai dari pertanian sampai pengolahan juga bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.
"Saat ini, pasar sektor ini (industri makanan dan minuman) relatif jelas karena ada program MBG (Makan Bergizi Gratis)," ucap akademisi ekonomi pembangunan tersebut.
Dalam istilah ekonomi, sektor tradable merupakan sektor penghasil barang yang terdiri dari sektor pertambangan dan penggalian, pertanian, serta industri manufaktur.
Baca juga: Pengamat: Penghancur terbesar ekonomi Indonesia, OR BLBI yang membelenggu hingga 2043
Jika NTB fokus terhadap sektor yang menghasilkan barang untuk pasar domestik dan ekspor, maka hal itu tentu saja bisa memberi akselerasi bagi perekonomian daerah yang selama ini bergantung terhadap fluktuasi lapangan usaha pertambangan.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan Nusa Tenggara Barat memiliki tiga sektor basis yang punya kekuatan besar untuk menggerakkan ekonomi daerah agar tidak selalu bergantung terhadap tambang, yakni pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
"Ketika sektor basis itu dikembangkan, maka ada banyak orang yang menikmati. Lapangan usaha pertanian, perdagangan, dan industri menyerap banyak tenaga kerja di NTB," kata Wahyudin.
Laju pertumbuhan ekonomi NTB secara kumulatif pada tahun 2025 tanpa pertambangan bijih logam tercatat sebesar 8,33 persen. Angka itu jauh lebih besar ketimbang laju pertumbuhan ekonomi dengan memasukkan pertambangan yang hanya tumbuh 3,22 persen.
Berdasarkan hasil Sakernas November 2025, lapangan usaha pertanian menyerap tenaga kerja paling banyak dengan komposisi mencapai 33,77 persen dari total angkatan kerja sebanyak 3,1 juta orang, sektor perdagangan besar dan eceran sebanyak 18,96 persen, serta industri pengolahan sebesar 10,33 persen.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026