Bupati Sumbawa, Jamaluddin Malik di Mataram, Selasa, mengatakan kebijakan isolasi atau larangan membawa ternak dari dan ke wilayah kecamatan Labangka dan Moyo Hulu tersebut diambil karena dua kecamatan ini merupakan wilayah endemik penyakit antraks.
"Selama musim hujan yang telah berlangsung tiga bulan ini Kecamatan Labangka dan Moyo Hulu tertutup bagi lalulintas ternak, ini untuk mencegah meluasnya serangan penyakit antraks, serta penyakit ngorok atau Septihcaemia epizootica (SE)," ujarnya.
Ia mengatakan, pada 2008 ditemukan dua kasus antraks di Kecamatan Labangka dan Moyo Hulu sehingga upaya pencegahan terus dilakukan. Untuk mencegah kian meluasnya penyakit tersebut, setiap memasuki musim hujan, wilayah endemik antraks diisolasi.
Menurut dia, setiap tahun Sumbawa kelebihan produksi ternak, namun antarpulau ternak potong dilakukan secara selektif, hanya ternak tidak produktif yang dikirim keluar.
"Selama ini permintaan bibit sapi antara lain dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan rata-rata mencapai 1.500 hingga 3.000 ekor per tahun, namun tidak semuanya bisa dipenuhi," kata Jamaluddin.
Karena itu, katanya, penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah provinsi dan kabupaten di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan populasi ternak sehingga permintaan ternak potong dan ternak bibit bisa dipenuhi seluruhnya.
Pada peringatan HUT Emas Kabupaten Sumbawa 22 Januari 2009 akan ditandatangani MoU bidang pertenakan sebagai tindaklanjut dari deklarasi Samawa 2006 yang dihadiri 17 provinsi dan 36 kabupaten penghasil ternak terutama kerbau, dan daerah yang membeli ternak dari sumbawa.
"Penandatanganan MoU dengan bupati/wali kota seSumbawa tersebut untuk mengembalikan peran Sumbawa sebagai penghasil ternak terutama kerbau sehingga pengembangan ternak tidak sekedar menjadi wacana," katanya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026