Jakarta (ANTARA) - Pengurus Pusat Pemuda Katolik menyampaikan bahwa perayaan Natal pada 2025 yang dilakukan secara sederhana sebagai bentuk empati dan solidaritas nasional di tengah duka yang masih dirasakan sebagian masyarakat, khususnya masyarakat yang terdampak bencana di Sumatera.

“Kesederhanaan ini adalah wujud kepekaan sosial. Kegembiraan tidak boleh memutus empati, dan solidaritas harus tetap menjadi ruh perayaan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, Natal tidak boleh berhenti pada cahaya lilin dan perayaan simbolik. Namun di tengah bencana dan luka sosial, Natal adalah panggilan iman untuk menghadirkan solidaritas dan keberpihakan nyata kepada sesama.

Stefanus juga mengapresiasi langkah-langkah respons kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat dalam penanganan dan pemulihan korban banjir di Sumatera.

"Kami mengapresiasi pemerintah dan solidaritas masyarakat. Inilah fondasi penting agar pemulihan berjalan adil, bermartabat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Baca juga: Bandara Juanda mencatat 430.540 penumpang sepuluh hari periode Nataru

Dia juga berterima kasih kepada Polri dan jajaran serta seluruh elemen masyarakat lintas iman seperti Banser, Kokam, dan berbagai organisasi keagamaan lainnya yang telah terlibat aktif menjaga keamanan dan ketertiban selama perayaan Natal.

"Pengamanan Natal adalah simbol gotong royong dan toleransi. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan lintas iman masih menjadi kekuatan utama bangsa,” kata Stefanus.

Baca juga: Terpopuler : NTB jaga kondusivitas dan kebhinekaan, wajah wisata diuji, hingga sepakati muktamar dalam waktu dekat

Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru, Pemuda Katolik juga turut mendoakan seluruh masyarakat yang melakukan perjalanan mudik dan bepergian.

"Kami mendoakan agar seluruh saudara-saudari yang mudik dan bepergian senantiasa dilindungi, selamat sampai tujuan, dan kembali dengan sehat,” ucapnya.

Dia pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia menjadikan Natal sebagai momentum penguatan solidaritas dan gerakan kemanusiaan. Di tengah kesedihan, harapan harus terus dirawat melalui kepedulian dan persaudaraan.

"Natal mengingatkan kita bahwa harapan selalu lahir dari kepedulian, bahwa Allah hadir di tengah luka, dan bahwa persaudaraan adalah kekuatan bangsa ini,” katanya.

 

 


 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026